deliksumut.com | Samosir,— Penataan area parkir di depan kawasan Foodcourt Waterfront City Pangururan menjadi sorotan wisatawan saat libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026. Sejumlah pengunjung menilai kondisi parkir yang semrawut mengurangi kenyamanan dan estetika destinasi unggulan di Kabupaten Samosir tersebut.
Hal itu disampaikan seorang wisatawan Tionghoa asal Medan, yang akrab disapa Koko (30), saat berbincang dengan awak media deliksumut.com di salah satu sudut foodcourt, tepatnya di depan stand UMKM yang tampak tertutup tirai biru dan tidak beroperasi selama masa liburan. Minggu (29/03/2026)
Koko mengaku telah dua hari berlibur di Samosir bersama keluarganya sejak 28 Maret 2026. Ia dan keluarga menginap di sebuah homestay di Desa Pardugul, Kecamatan Pangururan, dengan tarif sekitar Rp1.500.000 per malam untuk bangunan tiga kamar.
“Selama nginap di Home Stay kami menikmati suasana, ada yang mancing di pinggir Danau Toba diarahkan masyarakat. masyarakatnya ramah-ramah ” ujarnya.
Ia juga menyebut telah mengunjungi sejumlah destinasi, seperti Sibeabea dan Menara Pandang Tele, meski belum sempat ke Bukit Holbung dan Bukit Cinta karena cuaca mendung.
“Saya sama keluarga tadi juga jalan-jalan di kawasan Waterfront City ini, sekarang lagi nunggu pertunjukan air mancur. Tadi jalan ke arah sibea bea juga sudah mulai longgar, tidak macet,” katanya.
Meski mengapresiasi perkembangan pariwisata Samosir yang dinilainya semakin pesat dibandingkan kunjungan terakhirnya saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Koko menyoroti beberapa hal yang perlu dibenahi, salah satunya terkait keselamatan jalan dan penataan parkir.
“Waktu keluar dari penyeberangan kemarin, di tikungan jalan itu sebaiknya dipasang pagar pembatas, supaya kalau ada kecelakaan tidak langsung ke jurang,untuk keselamatan dan kenyamanan wisatawan” ungkapnya.
Ia menilai, potensi wisata Samosir sangat besar, bahkan tidak kalah dengan destinasi luar negeri yang pernah ia kunjungi.
“Kalau dibandingkan dengan Thailand atau Malaysia dan negara lain yang saya pernah kunjungi, Danau Toba dan Pulau Samosir ini luar biasa. Alamnya indah, budaya Batak juga sudah dikenal dunia,” ujarnya.
Namun demikian, ia berharap aspek kebersihan dan penataan kawasan, khususnya area parkir di depan Waterfront City, dapat menjadi perhatian serius.
“Parkiran di depan ini seharusnya ditata. Kalau bisa disediakan lahan parkir khusus, tidak apa-apa wisatawan jalan agak jauh. Ini kan wajahnya Waterfront City, kalau lokasi parkir di depan ini jadi kelihatan semrawut,” katanya.
Menurutnya, penataan parkir yang lebih baik juga akan berdampak pada pemerataan ekonomi bagi pelaku UMKM di kawasan tersebut.
“Kalau parkir agak jauh, wisatawan bisa jalan kaki ke sini. Siapa tahu mereka mampir ke stand UMKM lain, jadi semua merasakan dampaknya,” tambahnya.
Selain itu, Koko juga menyoroti minimnya variasi atraksi wisata di kawasan tersebut.
“Tadi saya cari pertunjukan budaya, tapi tidak ada. Kalau hanya air mancur saja, lama-lama wisatawan juga bisa bosan. Perlu ditambah atraksi lain supaya lebih menarik,” ujarnya.
Ia berharap ke depan kawasan wisata di Samosir, khususnya Waterfront City Pangururan, dapat terus dibenahi agar semakin menarik minat wisatawan untuk kembali berkunjung.
“Kalau dibenahi lagi, pasti orang akan datang lagi ke Samosir ini karena banyak hal yang mau dilihat,” tutupnya.
Koko bersama keluarganya pun berencana memperpanjang masa liburan untuk mengeksplorasi destinasi lain di Samosir. (Sam86)












