Mengais Rezeki dari Sampah, Perjuangan Ibu Lansia di Samosir Biayai Anak Kuliah Kedokteran Demi Masa Depan.

deliksumut.com | Samosir — Beberapa orang pemulung terlihat beraktivitas memilah sampah yang menumpuk di belakang Kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Samosir, di Komplek Perkantoran Parbaba, Jumat (10/4/2026).

Di antara para pemulung tersebut, perhatian tertuju pada seorang ibu lanjut usia yang dengan sabar memilah sampah dan memasukkan barang-barang yang masih bisa dimanfaatkan ke dalam karung. Tanpa menghiraukan bau menyengat, ia tampak tekun bekerja demi mengais rezeki.

Saat ditemui awak media, ibu tersebut diketahui bernama Erista Rentauli Sijabat (57), warga Kecamatan Simanindo. Ia mengaku telah lama bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup, khususnya demi membiayai pendidikan anaknya.

“Saya memulung untuk memperjuangkan anak saya yang sedang kuliah kedokteran supaya bisa selesai sekolahnya,” ujarnya.

Erista Rentauli memiliki empat orang anak. Anak bungsunya kini tengah menempuh pendidikan kedokteran di salah satu universitas swasta di Medan dan telah memasuki semester tujuh. Sementara anak-anak lainnya sudah bekerja dan ada yang telah berkeluarga. Suaminya sendiri bekerja sebagai petani.

Ia mengungkapkan, biaya pendidikan anaknya tidaklah sedikit. Untuk satu semester, biaya kuliah mencapai sekitar Rp30 juta atau sekitar Rp60 juta per tahun, di luar kebutuhan lainnya.

“Kalau satu semester 30 juta, kalau satu tahun 60 juta,” katanya.

Meski penghasilan dari memulung tidak menentu, ia tetap berjuang dengan berbagai cara. Selain memulung, ia juga bekerja di ladang serta berjualan dari rumah ke rumah demi mencukupi kebutuhan keluarga.

“Penghasilan tidak tentu, saya juga ke ladang dan jualan keliling supaya bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga,” tambahnya.

Ia berharap perjuangannya dapat membuahkan hasil, sehingga anaknya kelak memiliki masa depan yang lebih baik. “Kita orang tua tidak selamanya hidup, jadi harus diperjuangkan dari sekarang,” tuturnya penuh harap.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, Edison Pasaribu, saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa keberadaan tumpukan sampah tersebut merupakan bagian dari upaya awal dalam pengelolaan sampah berbasis pemilahan.

Menurutnya, sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomis jika dikelola dengan baik sejak dari sumbernya.

“Sampah itu sebenarnya adalah uang. Dari analisa kami, lebih dari 50 persen sampah masih bisa dimanfaatkan. Yang ke TPA seharusnya hanya sampah yang sudah tidak bernilai lagi,” jelasnya.

Ia menambahkan, konsep pengelolaan sampah yang sedang didorong adalah pemilahan sejak awal, sehingga dapat memunculkan pelaku usaha baru di bidang pengolahan sampah, baik di tingkat kecamatan maupun desa.

“Kalau setiap kecamatan dan desa mampu mengelola sampahnya sendiri, maka Samosir akan bersih dan TPA tidak akan penuh,” ujarnya.

Terkait aktivitas para pemulung di belakang kantor DLH, Edison menyebut bahwa hal tersebut merupakan inisiatif masyarakat sendiri. Pihaknya justru berharap kegiatan seperti itu dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.

“Ini atas keinginan mereka sendiri. Kita harapkan masyarakat mulai memilah sampah dari rumah. Kalau semua melakukan itu, persoalan sampah bisa teratasi,” pungkasnya.(Sam86)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *