Daerah  

Sampah Berserakan di Binanga Bulu, Ujian Nyata Semangat “Samosir Rumah Kita” di Tengah Keberadaan TPA Terbesar di Sumut

Samosir | deliksumut.com, – Tumpukan sampah plastik, botol minuman, kantong kresek hingga limbah rumah tangga terlihat berserakan di kawasan Sungai Binanga Bulu, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Sabtu (11/7/2026).

Berdasarkan pantauan deliksumut.com di lokasi, sampah tampak menumpuk di dasar aliran sungai dan di sekitar sempadan sungai. Kondisi tersebut cukup memprihatinkan mengingat lokasi itu berada tidak jauh dari kawasan wisata Kampung Ulos Hutaraja dan Pantai Lumban Manik, serta berada di jalur Ring Road Samosir yang setiap hari dilintasi masyarakat dan wisatawan.

Meski saat ini aliran Sungai Binanga Bulu dalam kondisi surut, keberadaan tumpukan sampah tersebut menimbulkan kekhawatiran. Ketika musim penghujan tiba, sampah-sampah itu berpotensi terbawa arus hingga bermuara ke Danau Toba dan mencemari lingkungan kawasan yang selama ini menjadi andalan sektor pariwisata Kabupaten Samosir.

Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah berbagai upaya Pemerintah Kabupaten Samosir membangun citra daerah sebagai destinasi pariwisata unggulan di kawasan Danau Toba. Bahkan, Kabupaten Samosir telah memiliki Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang selama ini disebut-sebut sebagai salah satu fasilitas pengelolaan sampah terbesar dan terlengkap di Sumatera Utara.

Keberadaan fasilitas tersebut seharusnya menjadi modal penting dalam mewujudkan tata kelola persampahan yang lebih baik. Namun, masih ditemukannya tumpukan sampah di sejumlah titik menunjukkan bahwa persoalan persampahan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur, melainkan juga menyangkut kesadaran masyarakat, sistem pengangkutan, pengawasan, serta efektivitas pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Apabila kondisi seperti ini terus terjadi, maka pembangunan infrastruktur pariwisata, promosi destinasi, hingga penyelenggaraan event berskala nasional dan internasional dikhawatirkan akan kehilangan makna. Sebab, kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor utama dalam membangun citra daerah wisata.

Selain mengurangi estetika kawasan, penumpukan sampah juga berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, timbulnya bau tidak sedap, menjadi sarang penyakit, hingga menyebabkan penyumbatan aliran air yang dapat memicu banjir saat musim hujan.

Belum diketahui secara pasti pihak yang membuang sampah di lokasi tersebut. Namun kondisi ini menunjukkan bahwa kesadaran menjaga kebersihan lingkungan masih perlu terus ditingkatkan. Tidak menutup kemungkinan sampah berasal dari aktivitas masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas di kawasan itu.

Persoalan sampah di Binanga Bulu juga menjadi refleksi terhadap tema Hari Jadi ke-22 Kabupaten Samosir, yakni “Samosir Rumah Kita” dengan subtema “Hidup Selaras Alam” yang diusung pada peringatan HUT Kabupaten Samosir pada Februari 2026 lalu.

Filosofi tersebut mengandung makna bahwa Samosir adalah rumah bersama yang harus dijaga dan dirawat. Dalam budaya Batak, rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, keberadaan tumpukan sampah di salah satu jalur menuju kawasan wisata menjadi ironi tersendiri di tengah gencarnya promosi Samosir sebagai “Negeri Indah Kepingan Surga”. Semangat hidup selaras dengan alam tidak cukup hanya menjadi slogan seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Masyarakat berharap adanya langkah konkret dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah desa, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, pelaku usaha pariwisata, hingga masyarakat dan wisatawan, melalui peningkatan edukasi lingkungan, penyediaan fasilitas pembuangan sampah, pembersihan rutin, serta penegakan aturan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan.

Keberadaan TPA yang besar dan terlengkap seharusnya menjadi kebanggaan sekaligus solusi dalam penanganan sampah di Kabupaten Samosir. Namun apabila sampah masih ditemukan berserakan di sungai dan kawasan wisata, maka muncul pertanyaan mengenai sejauh mana efektivitas pengelolaan sampah yang telah berjalan.

Sebab pada akhirnya, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya soal kebersihan semata, melainkan juga menjaga masa depan pariwisata, perekonomian masyarakat, dan marwah daerah.

Jika Samosir benar adalah “Rumah Kita”, maka tidak ada alasan membiarkan sungai dan kawasan wisata dipenuhi sampah.

Hingga berita ini diturunkan, deliksumut.com masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir dan Pemerintah Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan terkait langkah penanganan sampah di kawasan Sungai Binanga Bulu.(Sam86)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *