SAMOSIR | deliksumut.com — Persoalan infrastruktur jalan di Desa Sihusapi, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, tidak hanya terjadi pada ruas jalan kabupaten penghubung Sihusapi–Sidaji–Simarmata. Kondisi jalan provinsi yang melintasi desa tersebut juga mengalami kerusakan parah dan membuat masyarakat bersama para perantau harus patungan dana untuk melakukan perbaikan secara swadaya.
Pantauan deliksumut.com, sejumlah titik pada ruas jalan provinsi tersebut mengalami kerusakan. Bahkan, masyarakat membangun rabat beton di beberapa bagian jalan untuk membantu memperlancar akses kendaraan, terutama saat hujan.
Salah seorang warga Desa Sihusapi yang ditemui deliksumut.com saat melintas mengatakan kondisi jalan cukup sulit dilalui, khususnya ketika hujan turun.
“Menurut saya tentang jalan ini, ya ginilah Pak, susah naiknya sama turunnya. Apalagi kalau datang hujan, ya di situlah yang paling parah,” ujarnya. Rabu, (26/08/2026).
Menurutnya, kondisi jalan tersebut telah mengalami kerusakan cukup lama, bahkan diperkirakan hampir 20 tahun.
“Kondisi jalan rusak parah, sepertinya sudah hampir 20 tahun,” katanya.
Ia menyebut kerusakan jalan terjadi mulai dari perbatasan Desa Simarmata menuju Desa Sihusapi hingga ke arah Desa Martoba.
“Rusaknya dari bawah sana, ujung aspal itu sampai ke Pearoba,” ujarnya.
Saat ditanya apakah kondisi jalan tersebut pernah menyebabkan warga terjatuh, ia membenarkannya.
“Sering, Pak. Apalagi anak sekolah mau turun. Yang paling parah lagi hujan. Air tidak masuk ke parit, air mengalir di jalan saja,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Samosir dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera memberikan perhatian dan melakukan perbaikan secara permanen.
“Harapan kami sebagai masyarakat Sihusapi, tolonglah dibetulkan, sama diaspal. Bagaimanalah, biar kalau datang hujan lancar, anak sekolah mau turun, mau naik. Tolonglah diperbaiki dan diperhatikan,” harapnya.
*Warga dan Perantau Patungan Bangun Rabat*
Kerusakan jalan yang belum tertangani secara permanen membuat masyarakat Desa Sihusapi bersama para perantau mengambil inisiatif melakukan perbaikan secara swadaya.
Rasdin, salah seorang warga, mengatakan dana pembangunan rabat di beberapa titik jalan provinsi tersebut dikumpulkan melalui partisipasi masyarakat dan para perantau asal Desa Sihusapi.
“Memperbaiki yang kayak ginilah yang rusak ini, swadaya untuk bantu-membantulah. Dari masyarakat, dari perantau juga kami kasih tahu biar ngumpul-ngumpul biaya,” katanya.
Ia berharap upaya masyarakat tersebut mendapat perhatian pemerintah sehingga perbaikan jalan tidak selamanya harus mengandalkan swadaya.
“Tolonglah pemerintah diperhatikan jalan kami ini,” ujarnya.
*Pernah Sampaikan Aspirasi ke DPRD Provinsi*
Kepala Desa Sihusapi, Ramhot Simarmata, mengatakan pihaknya telah beberapa kali menyampaikan aspirasi terkait kondisi jalan provinsi tersebut.
Menurut Ramhot, aspirasi pernah disampaikan kepada Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Sumatera Utara bersama salah seorang anggota DPRD Provinsi dari daerah pemilihan Samosir. Namun, hingga kini belum membuahkan hasil seperti yang diharapkan masyarakat. Ia mengatakan jalan provinsi yang terealisasi hanya jalan yang sudah diaspal di desa simarmata sepanjang 1 kilometer.
Untuk mengatasi kerusakan jalan yang semakin parah, pemerintah desa bersama masyarakat kemudian sepakat mengumpulkan dana untuk membangun rabat beton jalur dua di sejumlah titik.
Ramhot mengatakan, pada 2023, masyarakat berhasil mengumpulkan sekitar Rp25 juta, sedangkan dari para perantau terkumpul sekitar Rp50 juta.
“Pada tahun 2023 saya kumpulkanlah dari masyarakat, terkumpullah kurang lebih Rp25 juta dari masyarakat di sini dan dari perantau kurang lebih Rp50 juta,” ungkapnya.
Dana tersebut kemudian digunakan untuk pembangunan rabat di beberapa titik jalan provinsi dengan total panjang kurang lebih 180 meter.
Ramhot juga mengungkapkan bahwa pihaknya baru-baru ini telah memohon kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara agar dilakukan pemeliharaan jalan. Namun, penanganan yang dilakukan menurutnya baru sebatas pemberian sertu.
Berdasarkan pantauan di lapangan, memang terlihat material sertu berupa kerikil dan bebatuan di sejumlah titik jalan, tetapi material tersebut belum dilakukan pemadatan secara optimal.
Persoalan jalan di Desa Sihusapi yang terjadi pada ruas jalan kabupaten penghubung Sihusapi–Sidaji–Simarmata.
Ramhot membenarkan, pembangunan terakhir pada ruas tersebut dilakukan pada 2025 berupa pembangunan tembok penahan tanah (TPT). Namun, menurutnya, TPT tersebut tidak dilakukan penimbunan sehingga menimbulkan kondisi seperti jurang di salah satu sisi ruas jalan.
Sementara itu, untuk pembangunan rabat di jalan penghubung Desa Sihusapi–Sidaji–Simarmata, masyarakat benar melakukan pengumpulan dana secara patungan dan mengerjakannya secara swadaya.
Menurut Ramhot, pemerintah desa juga ikut bergotong royong dalam proses pembangunan tersebut. Selain itu, dirinya secara pribadi turut memberikan dukungan dana untuk membantu pembangunan jalan.
“Untuk jalan yang di Sihusapi–Sidaji itu, masyarakat patungan dan dikerjakan secara swadaya. Pemerintah juga ikut bergotong royong, dan saya pribadi juga memberikan dana untuk pembangunan jalan,” jelasnya.
Adapun ruas jalan provinsi yang melintasi Desa Sihusapi memiliki panjang kurang lebih 8 kilometer, mulai dari perbatasan Desa Simarmata–Sihusapi hingga terhubung ke Desa Maduma.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Desa Sihusapi tidak hanya menunggu perhatian pemerintah, tetapi juga secara mandiri berupaya menjaga akses jalan tetap dapat dilalui.
Namun, masyarakat berharap pemerintah tidak berhenti pada penanganan sementara. Mereka meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara segera melakukan perbaikan dan pengaspalan secara permanen terhadap ruas jalan tersebut agar aktivitas masyarakat dan anak sekolah tidak terus terganggu, terutama ketika Hujan turun.
(Samsir Sitanggang)












