Akses Jalan Bonan Dolok-Binangara Terbuka dan Terhubung ke Kabupaten Dairi, PU Samosir Optimis 17 KM Hotmix Tuntas 2029

deliksumut.com | Samosir – Akses jalan dari Desa Bonan Dolok menuju Binangara, Desa Hasinggahan, Kecamatan Sianjur Mulamula, yang menghubungkan Kabupaten Samosir dengan Kabupaten Dairi kini telah dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Meski ruas jalan masih berupa jalan tanah dan berbatu serta belum dilakukan pengaspalan.

Hasil penelusuran wartawan deliksumut.com pada Senin (1/6/2026) menunjukkan kendaraan roda empat maupun roda dua sudah dapat melintas hingga ke Binangara. Namun, pengendara sepeda motor tetap diimbau berhati-hati karena di sejumlah titik masih terdapat bebatuan pada tanjakan dan turunan, serta beberapa ruas yang belum mengalami pemadatan secara maksimal.

Kondisi tersebut terlihat mulai dari kawasan Hasinggahan, Lagundi, Bahal-Bahal, Pinal hingga Binangara. Selain itu, sejumlah mata air masih mengalir melintasi badan jalan dan terdapat beberapa aliran sungai kecil yang belum dilengkapi jembatan maupun gorong-gorong.

Di sepanjang jalur tersebut juga tampak sejumlah alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Samosir yang masih bekerja melakukan penataan dan pelebaran jalan.

Salah seorang warga Binangara, Daulat Sitohang, mengatakan akses jalan tersebut sebenarnya telah lama terbuka, namun baru beberapa tahun terakhir kembali mendapat perhatian pemerintah.

“Kalau jalan ini sudah terbuka ada lebih 10 tahun, tapi akhir-akhir ini, bulan lalu masih berlanjut sampai sekarang diperbaiki sehingga aksesnya bisa tembus menggunakan sepeda motor,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah terus melanjutkan pembangunan hingga jalan tersebut dapat diaspal.

“Harapan kami kepada pemerintah, supaya jalan ini tidak lagi disia-siakan, karena sebetulnya aksesnya sudah terbuka hanya belum aspal. Saya mohon, harapan kami semua supaya cepat terealisasi dan diaspal,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Samosir, Rudimanto Limbong, menjelaskan pekerjaan yang dilakukan saat ini bukan lagi pembukaan jalan baru, melainkan penataan dan peningkatan kualitas jalan yang sebelumnya sudah pernah dibuka.

“Kami dari Dinas PU melanjutkan, sebenarnya kalau lebih pas penataan ya. Kalau pembukaan jalan itu dulu kan sudah dibuka, walaupun ukurannya 3 atau beberapa meter dan belum layak disebut sebagai jalan kabupaten. Jadi berangsur-angsur dari tahun 2024 dan 2025 baru sampai di pangkal Dusun Pinal, kemudian di tahun 2026 ini kita tembuskan sampai Binangara dan mulai kita kerjakan sejak Februari sampai hari ini alat kita masih di situ,” jelasnya.Rabu, (3/6/2026)

Menurut Rudimanto, selain membuka akses hingga Binangara, pihaknya juga melakukan pelebaran jalan dan memperbaiki sejumlah titik yang dinilai belum layak dilalui kendaraan.

“Sekarang lebarnya rata-rata antara 6 sampai 7 meter, tetapi menurut kami masih perlu diperlebar lagi. Target kami sesuai arahan Bupati, kalau bisa dibuka sampai 10 sampai 12 meter karena ini akses jalan antar kabupaten. Kalau suatu saat ada dukungan anggaran dari pusat, provinsi maupun kabupaten, jalan ini bisa didesain menjadi dua jalur dan mendukung kawasan wisata. Jadi kita tidak berpikir jangka pendek, tetapi jangka panjang,” katanya.

Ia menambahkan, sebelumnya kabupaten Samosir telah memperoleh dukungan program Inpres Jalan Daerah (IJD) sepanjang 1,7 kilometer yaitu, jalan simpang tulas- Bonan Dolok Karena statusnya sebagai koridor prioritas, ruas jalan yang sama akan terus diusulkan hingga penanganannya tuntas.

“Menurut Kementerian PU, IJD itu koridor. Artinya ruas yang sudah diusulkan tahun lalu akan terus diusulkan lagi pada tahun berikutnya sampai selesai, bukan berpindah-pindah ruas jalan,” ungkapnya.

Rudimanto menjelaskan total panjang ruas jalan dari Simpang Tulas hingga Binangara mencapai hampir 22 kilometer.

“Kalau panjang, dari Simpang Tulas sampai ke Jembatan Bonan Dolok itu 4,7 kilometer. Kemudian dari Jembatan Bonan Dolok sampai ke Binangara ukuran kami kemarin 16,93 kilometer sampai ke jembatan di Binangara dan itu batas kita,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya masih akan memastikan kembali batas administrasi antara Kabupaten Samosir dan Kabupaten Dairi.

“Saya sudah lihat peta jalan kita. Banyak orang mengatakan jembatan itu batas, tetapi ketika saya sandingkan dengan peta administrasi Kabupaten Samosir, sepertinya belum di situ batasnya. Kami akan mencoba berkoordinasi dengan Pemkab Dairi untuk memastikan di mana sesungguhnya batas Samosir dengan Dairi,” jelasnya.

Menurut Rudimanto, manfaat jalan tersebut mulai dirasakan masyarakat. Aktivitas perdagangan dan kunjungan wisatawan perlahan meningkat sejak akses jalan dapat dilalui kendaraan.

“Masyarakat mengatakan seperti ini, mobil sudah masuk ke Bahal-Bahal. Bayangkan, mobil kami dianggap pertama masuk ke Bahal-Bahal semenjak Indonesia merdeka. Kemudian lalu lalang aktivitas pedagang juga dari Pangururan maupun Silalahi sudah banyak yang masuk, seperti jual sayur, jual ikan dan kebutuhan lainnya. Wisatawan juga sudah mulai masuk baik dari arah Bonan Dolok maupun dari Kecamatan Silahisabungan,” tuturnya.

Meski sudah tembus, Dinas PU mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, terutama pada tikungan, tanjakan, turunan serta penanganan aliran air.

“Itu nanti akan kami evaluasi lagi karena di beberapa tikungan tertentu belum memberikan kenyamanan. Kemungkinan juga masih diperlukan memotong beberapa tanjakan, apalagi dari Pinal ke Binangara masih cukup curam,” katanya.

Selain itu, hasil survei Dinas PU menunjukkan sedikitnya terdapat sembilan titik yang memerlukan penanganan drainase dan saluran air.

“Kalau untuk mengamankan jalannya air, mau tidak mau kita harus melakukan itu. Menurut survei kami ada sembilan titik yang membutuhkan perlakuan untuk kelancaran aliran air,” ujarnya.

Untuk mempercepat peningkatan kualitas jalan, Pemerintah Kabupaten Samosir kembali mengusulkan pembangunan melalui program Inpres Jalan Daerah.

“Kalau kita saat ini mengusulkan di Inpres Jalan Daerah, masih memungkinkan kita mengusulkan sekitar 5 sampai 8 kilometer per tahun. Dengan sisa ruas yang masih harus ditangani sekitar 17 kilometer lagi, apabila konsisten dan tidak ada perubahan regulasi serta kondisi keuangan negara mendukung, saya pikir bisa tuntas sampai tahun 2029,” jelas Rudimanto.

Pada tahun 2026, ruas tersebut kembali diusulkan sepanjang 8,5 kilometer.

“Saat ini masih proses penginputan data. Bagaimana supaya berhasil, itu PR berikutnya. Namun kami optimis karena selalu kami sampaikan ke kementerian maupun provinsi bahwa jalan ini memiliki nilai strategis,” katanya.

Menurutnya, jalan Bonan Dolok–Binangara memiliki potensi besar mendukung sektor pariwisata dan ketahanan pangan.

“Sepanjang ruas jalan ini Danau Toba bisa dinikmati. Selain itu juga mendukung ketahanan pangan karena mulai dari Bonan Dolok, Hasinggahan, Lagundi, Bahal-Bahal hingga Binangara semuanya merupakan sentra pertanian. Ini sejalan dengan visi ketahanan pangan yang menjadi program nasional,” ujarnya.

Menanggapi banyaknya wisatawan yang mulai melintasi jalur tersebut, Rudimanto menyatakan pihaknya akan mempertimbangkan pemasangan rambu-rambu keselamatan meskipun jalan belum dihotmix.

“Tidak salah juga kalau rambu jalan dibuat meskipun jalan itu belum dihotmix karena menjadi pemandu bagi pengguna jalan. Nanti akan kami coba anggarkan pada tahun 2026 atau 2027,” katanya.

Sementara terkait belum adanya pembatas jalan pada ruas Simpang Tulas–Bonan Dolok yang telah selesai dihotmix dan dapat membahayakan keselamatan pengendara karena di sisi jalan terdapat jurang menghadap Danau Toba, ia menyebut hal tersebut juga menjadi perhatian pemerintah daerah

“Ini akan menjadi PR kita juga, apakah akan kita masukkan ke APBD atau meminta dukungan ke pusat untuk penanganan lebih lanjut. Karena setelah dibangun melalui IJD, pemeliharaan berikutnya menjadi tanggung jawab kabupaten,” tegasnya.

Sementara itu Kepala UPTD Peralatan dan Alat Berat Dinas PU Kabupaten Samosir, Ronatal Sinaga, mengatakan jalur dari Hasinggahan menuju Bahal-Bahal sebenarnya telah terbuka sebelum tahun 2024, namun tidak pernah digunakan sehingga kembali tertutup semak belukar dan longsoran.

“Sejak kurun waktu sampai tahun 2024 jalur dari Hasinggahan sampai ke Bahal-Bahal meskipun sudah terbuka tidak pernah digunakan pengguna lalu lintas sehingga ditumbuhi semak belukar dan banyak longsoran di beberapa titik serta jalur penyeberangan air yang belum terbangun,” katanya.Rabu, (3/6/2026)

Menurutnya, pada tahun 2024 jalur tersebut kembali dibenahi melalui program TMMD sebelum dilanjutkan Dinas PU pada tahun 2026.

“Kemudian tahun 2026 ini kami dari Dinas PU melanjutkan pembenahan jalan tersebut mulai dari Hasinggahan sampai menuju Pinal dan Binangara sehingga sudah terkoneksi antara Kabupaten Samosir dan Dairi serta dapat terhubung ke Kabupaten Karo dan Simalungun,” ujarnya.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah kendala teknis di lapangan.

“Ada beberapa tikungan yang tidak sesuai dengan alinyemen dan beberapa trase vertikal berupa tanjakan dan turunan yang belum memenuhi persyaratan sesuai ketentuan. Itu kendala yang terjadi sampai hari ini,” jelasnya.

Untuk mendukung pekerjaan tersebut, Dinas PU mengoperasikan tiga unit excavator, satu unit bulldozer, satu unit grader, satu unit vibro roller serta sekitar enam unit dump truck.(Sam86)

Exit mobile version