deliksumut.com | Samosir – Pelaksanaan ajang lari internasional Trail of The Kings (TOTK) by UTMB 2026 di Kabupaten Samosir kembali menuai sorotan. Setelah sebelumnya muncul kritik terkait keberadaan anjing yang berkeliaran di jalur lomba serta keluhan sejumlah marshall mengenai honor yang belum jelas, kini perhatian publik tertuju pada kondisi jalur menuju garis finis yang dinilai semrawut, tidak steril, dan berpotensi membahayakan keselamatan peserta.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (13/6/2026) malam, area menjelang garis finis di sekitar Patung Sitolu Harajaon dan Totem Papua, kawasan Water Front City Pangururan, dipadati pengunjung yang bebas keluar masuk lintasan. Tidak tampak pagar pembatas maupun sistem pengamanan yang memadai untuk memisahkan penonton dari peserta yang sedang berlari menuju garis akhir.
Situasi tersebut menyebabkan sejumlah pengunjung, termasuk anak-anak, berada di dalam lintasan lomba. Beberapa di antaranya terlihat lalu-lalang melintasi jalur yang seharusnya steril dan menjadi prioritas penuh bagi pelari yang sedang menyelesaikan perlombaan. Di tengah kondisi itu, hanya terlihat satu orang petugas yang berupaya mengarahkan pengunjung agar tidak menghalangi jalur peserta.
Padahal, area menjelang finis merupakan salah satu titik paling krusial dalam sebuah perlombaan lari jarak jauh. Pada fase tersebut, kondisi fisik pelari umumnya sudah berada pada batas kemampuan setelah menempuh lintasan puluhan kilometer. Sedikit gangguan, senggolan, atau hambatan dari kerumunan penonton dapat menyebabkan peserta kehilangan keseimbangan, terjatuh, bahkan mengalami cedera serius tepat sebelum menyelesaikan lomba.
Ironisnya, selain minim pengamanan, di sekitar lintasan juga terlihat sampah plastik, gelas minuman, dan berbagai sisa aktivitas pengunjung yang berserakan. Pemandangan itu menimbulkan kesan kumuh dan tidak tertata pada sebuah event yang selama ini dipromosikan sebagai ajang trail running bertaraf internasional.
Salah seorang pengunjung yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengaku heran melihat area menjelang finis yang dibiarkan terbuka tanpa pengamanan yang memadai.
“Ini kan jalur mendekati finish, tapi kok tidak ada pagar pengaman. Banyak pengunjung menghalangi jalan pelari yang sudah capek dan ngos-ngosan. Sampah juga berserakan, memberikan kesan tidak baik kepada peserta yang ada juga dari mancanegara,” ujarnya.
Menurutnya, pengamanan di area finis seharusnya menjadi prioritas utama panitia karena menyangkut keselamatan peserta sekaligus citra penyelenggaraan event.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai standar operasional dan manajemen risiko yang diterapkan penyelenggara. Dalam event olahraga berskala internasional, area finis lazimnya menjadi zona dengan tingkat pengamanan tertinggi. Jalur peserta biasanya disterilkan menggunakan pagar pembatas, petugas keamanan ditempatkan di berbagai titik strategis, dan akses penonton diatur secara ketat untuk mencegah terjadinya insiden.
Yang terjadi di lokasi justru menampilkan pemandangan yang bertolak belakang. Jalur finis yang seharusnya menjadi ruang aman bagi atlet tampak bercampur dengan kerumunan pengunjung tanpa pembatas yang jelas. Situasi ini memunculkan kesan bahwa aspek keselamatan peserta belum mendapat perhatian yang proporsional dibandingkan kemeriahan seremoni dan promosi event.
Lebih jauh, kondisi tersebut dinilai tidak sekadar persoalan teknis lapangan, melainkan menyangkut profesionalisme penyelenggara. Label internasional seharusnya tidak hanya menjadi materi promosi, tetapi juga tercermin dalam kualitas pengelolaan lomba, terutama pada aspek keselamatan peserta. Sebab, standar sebuah event kelas dunia tidak diukur dari banyaknya spanduk, panggung hiburan, atau publikasi media sosial, melainkan dari sejauh mana penyelenggara mampu menjamin keamanan atlet dari garis start hingga garis finis.
Apabila seorang pelari mengalami cedera akibat berdesakan dengan penonton atau tersandung hambatan di area finis, maka kejadian tersebut bukan lagi dapat dianggap sebagai insiden biasa, melainkan bentuk kelalaian yang seharusnya bisa dicegah melalui pengamanan yang baik.
Sorotan terhadap jalur finis ini semakin menambah daftar evaluasi terhadap pelaksanaan TOTK by UTMB 2026. Sebelumnya, kritik juga muncul terkait keberadaan anjing yang berkeliaran di lintasan lomba, keluhan marshall mengenai konsumsi dan honor yang belum jelas, hingga berbagai persoalan teknis lainnya yang dinilai mencederai kualitas penyelenggaraan.
Sebagai event yang membawa nama Samosir dan Indonesia di hadapan peserta dari berbagai negara, publik berharap penyelenggara tidak menutup mata terhadap berbagai kritik yang muncul. Keselamatan peserta tidak boleh ditempatkan sebagai urusan pelengkap atau sekadar slogan promosi. Sebab dalam olahraga, tidak ada prestise yang lebih penting daripada keselamatan manusia.
Jika area paling krusial menjelang garis finis saja tidak mampu dijaga secara optimal, maka wajar apabila publik mempertanyakan sejauh mana kesiapan dan profesionalisme penyelenggara dalam mengelola event yang mengusung predikat internasional tersebut.
(Samsir Sitanggang)
