deliksumut.com | Samosir — Kisah kepedulian terhadap kampung halaman datang dari Desa Tomok, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Seorang warga, Kirman Sidabutar, menceritakan bagaimana niat sederhana dari hatinya akhirnya menjadi fondasi berdirinya Kantor Desa Tomok yang diresmikan pada tahun 2023 lalu. (15/02/2026).
Kirman Sidabutar merupakan keturunan Op. Dedi Sidabutar, berasal dari keluarga lima bersaudara — empat laki-laki dan satu perempuan. Ia menikah dengan boru Girsang dan dikaruniai dua anak laki-laki. Sejak tahun 1999, Kirman merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan, sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman pada tahun 2012 untuk mengabdi kepada orang tuanya.
“Sepulang dari rantau, kehidupan saya bisa dibilang mulai dari nol lagi. Saya berjuang menata hidup di kampung,” tuturnya.
Sejak pulang kekampung halaman, Kirman Sidabutar dikenal sebagai pelaku wisata di kawasan Tomok. Pengalamannya berinteraksi dengan wisatawan membuatnya memahami pentingnya penataan desa dan fasilitas publik yang memadai.
Bersentuhan langsung dengan wisatawan, semakin menumbuhkan kesadarannya akan pentingnya fasilitas desa yang baik dan tertata, termasuk keberadaan kantor desa permanen sebagai pusat pelayanan masyarakat.
Kini, ia menjalani keseharian sebagai supir becak wisata di Tomok, mengantar wisatawan yang datang berkunjung ke kawasan tersebut. Ia kerap membawa tamu turis dari Malaysia maupun dari berbagai negara di Eropa, sembari memperkenalkan budaya lokal serta kehidupan masyarakat setempat.
Menurut Kirman, idenya untuk menghibahkan tanah muncul dari keprihatinannya melihat kondisi kantor desa yang terus berpindah karena masih mengontrak.
“Saya melihat sendiri bagaimana kepala desa dan aparatnya harus berpindah-pindah kantor setiap tahun. Pelayanan jadi kurang maksimal, dan saya merasa desa ini butuh kantor sendiri,” ujarnya.
Selama hampir satu tahun, ia menyaksikan aparat desa berkeliling meminta sebidang tanah kepada masyarakat untuk lokasi kantor desa, namun belum ada yang bersedia menyerahkan lahannya.
“Saya lihat tiap hari aparat desa mutar sana-sini mencari tanah. Dari situ saya berpikir, kalau bukan saya yang memulai, mungkin desa ini akan terus menunggu,” tuturnya.
Dengan niat tersebut, Kirman kemudian berbicara langsung dengan aparat desa dan bersama-sama turun meninjau lokasi yang dianggap cocok untuk pembangunan kantor desa.
Akhirnya, ia memutuskan menghibahkan sebidang tanah seluas 10 x 20 meter yang berada di pinggir Jalan Ring Road Samosir di Desa Tomok. Tanah hibah itu kemudian menjadi lokasi pembangunan Kantor Desa Tomok yang kini telah berdiri dan diresmikan pada tahun 2023 lalu.
“Saya hanya ingin desa ini maju. Sebagai perantau yang sudah kembali ke kampung, saya ingin ada sesuatu yang bisa saya tinggalkan untuk kepentingan masyarakat,” katanya.
Kirman juga menyadari bahwa kepedulian terhadap pembangunan desa bukan hanya datang dari dirinya seorang. Menurutnya, di berbagai wilayah di Kabupaten Samosir, ada pula masyarakat lain yang dengan tulus menghibahkan tanah atau memberikan dukungan bagi pembangunan fasilitas umum.
“Saya yakin bukan hanya saya. Banyak masyarakat Samosir yang peduli dengan desanya dan bersedia membantu pembangunan, termasuk menghibahkan tanah untuk kepentingan umum. Semangat seperti inilah yang harus dijaga,” ucapnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberi perhatian dan apresiasi kepada masyarakat yang telah berkontribusi bagi kemajuan daerah.
“Harapan saya ke depan, pemerintah kabupaten bisa memberi apresiasi kepada masyarakat yang sudah berbuat. Kalau ada perhatian seperti itu, masyarakat lain juga akan semakin terdorong untuk ikut membantu pembangunan desa,” ujarnya.
Kisah Kirman Sidabutar menjadi gambaran bahwa pembangunan desa tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar.
Dari pengalamannya sebagai pelaku wisata hingga kesehariannya kini sebagai supir becak wisata yang melayani turis, serta kepeduliannya menghibahkan tanah, Kirman menunjukkan bahwa kecintaan pada kampung halaman dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.
Di tengah fakta masih adanya desa di Kabupaten Samosir yang terpaksa mengontrak kantor karena belum memiliki lahan, langkah Kirman — bersama kepedulian masyarakat lainnya di Samosir — menjadi inspirasi bahwa kemajuan daerah dapat tumbuh dari gotong royong dan kesadaran bersama untuk membangun kampung halaman. (Sam86)
