Di Festival Tao Toba Jou Jou 2026, Togar Siboro Gali Potensi Kuliner Batak untuk Pariwisata Danau Toba

SAMOSIR, deliksumut.com – Potensi kuliner Batak sebagai warisan budaya sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku UMKM menjadi salah satu fokus yang digali Togar Siboro, S.Pd., MM, saat memandu Talkshow Kuliner “Tren dan Warisan” dalam rangkaian Festival Tao Toba Jou Jou 2026 di Segmen 5, Waterfront City Pangururan, Kabupaten Samosir, Sabtu (8/8/2026).

Togar yang merupakan Kabid UMKM Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dan Tenaga Kerja Kabupaten Samosir tersebut mengarahkan diskusi pada upaya mempertahankan kuliner tradisional Batak sekaligus mengembangkannya melalui inovasi agar memiliki nilai tambah dan dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata Danau Toba.

Talkshow mengusung tema “Meracik Warisan, Menciptakan Tren: Kuliner Lokal sebagai Daya Tarik Wisata Danau Toba” dengan menghadirkan Rudi Hartono Panjaitan, MasterChef Indonesia Season 12, dan Ikram Rizal, influencer pariwisata.

Kegiatan tersebut dihadiri ratusan pelaku UMKM dari Kabupaten Samosir maupun luar Samosir.

Saat membuka diskusi, Togar mengangkat kekayaan kuliner Batak melalui pantun:

“Pergi ke pasar beli Andaliman,
Dicampur asam si mangga muda.
Naniura lezat teman beriman,
Bikin rindu kampung di Danau Toba.”

Dalam memandu talkshow, Togar menggali sejumlah aspek kuliner Batak, mulai dari cita rasa, penggunaan rempah lokal, inovasi pengolahan, kemasan, promosi digital hingga peluang kuliner menjadi bagian dari pengalaman wisatawan.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah andaliman sebagai rempah khas Batak. Togar menggali peluang pengembangan andaliman agar tidak hanya digunakan sebagai bumbu masakan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk yang lebih praktis dan memiliki nilai jual.

Pembahasan juga menekankan pentingnya mempertahankan karakter bahan dan bumbu lokal dalam melakukan inovasi terhadap makanan tradisional.

Keterkaitan kuliner dengan promosi digital dan pariwisata turut menjadi bagian diskusi. Kuliner dinilai tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dapat menjadi cerita dan pengalaman yang memperkenalkan karakter suatu daerah kepada wisatawan.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi tanya jawab. Sejumlah pelaku UMKM dan pengunjung menyampaikan pertanyaan mengenai pengembangan produk kuliner hingga strategi promosi melalui media sosial.

Salah seorang pengunjung, Jenny Purba, menanyakan tips meningkatkan kemampuan mempromosikan produk kuliner sebagai content creator.

Pertanyaan tersebut ditanggapi dengan penekanan pada pentingnya konsistensi membuat konten, menemukan ciri khas, mengangkat hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta menyajikan informasi yang menarik dan bernilai bagi penonton.

Talkshow kemudian ditutup Togar dengan pantun yang kembali mengangkat kuliner Batak.

“Ikan mas bumbu andaliman,
Rasa lezat tiada duanya.
Warisan leluhur sepanjang zaman,
Ikan arsik Batak kebanggaan kita.”

Usai talkshow, Togar mengatakan salah satu poin penting yang ingin disampaikan kepada pelaku UMKM adalah bagaimana masakan dan bumbu tradisional yang dimiliki Samosir dapat terus diinovasi sehingga dapat dinikmati wisatawan sekaligus memiliki nilai jual lebih luas.

“Intinya dari talkshow kita mengedepankan masakan dan bumbu tradisional yang ada di kita ini, khususnya Samosir. Itulah yang bisa diinovasi untuk masakan dan dirasakan oleh pengunjung. Ada inovasi dari masakan-masakan tradisional berbasis bumbu tadi,” ujar Togar.

Menurutnya, andaliman menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh, termasuk dalam bentuk produk serbuk dan kemasan yang lebih praktis.

“Kita fokus tadi ke andaliman, itu boleh juga untuk serbuk, bagaimana kemasan-kemasan juga murah, jadi kemasan masakan tradisional ini bisa dipos keluar. Ini tadi harapan kita,” katanya.

Togar juga menilai keistimewaan kuliner Batak terletak pada penggunaan rempah lokal yang memiliki karakter rasa dan aroma khas.

“Kenapa kuliner Batak itu begitu istimewa? Keistimewaannya terletak pada penggunaan rempah-rempah lokal yang tidak selalu ditemukan di daerah lain. Salah satu yang paling ikonik adalah andaliman, rempah khas yang memberi sensasi pedas getir dan aroma segar yang menjadi ciri utama banyak masakan Batak,” ungkapnya.

Selain cita rasa, Togar menilai kuliner Batak memiliki nilai budaya yang dapat menjadi kekuatan dalam pengembangan pariwisata.

“Selain itu, banyak hidangan Batak Toba lahir dari tradisi adat dan ritual keluarga, sehingga memiliki makna simbolis. Proses memasak, pemilihan bahan, hingga cara penyajiannya sering kali mencerminkan nilai kebersamaan, penghormatan dan hubungan erat dengan alam sekitar,” lanjutnya.

Togar mengakui antusiasme pelaku UMKM dan peserta selama talkshow cukup tinggi. Bahkan, sejumlah peserta masih ingin menyampaikan pertanyaan ketika waktu kegiatan harus berakhir.

“Teman-teman para pelaku usaha semangat sekali mengikuti, bahkan banyak ingin bertanya. Tapi karena waktu terbatas, apa boleh buat. Tadi para pelaku banyak juga yang antusias bertanya,” ungkapnya.

Usai kegiatan, Togar juga mempromosikan Bumbu Racik Andaliman sebagai salah satu contoh produk yang memanfaatkan kekayaan rempah lokal dan dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar lebih luas.

Ia berharap pelaku UMKM tidak berhenti berinovasi dan mampu memanfaatkan momentum pariwisata untuk memperkenalkan produk lokal secara berkelanjutan.

“Harapan kita ya, marparbuei, teruslah dan terus, jangan hanya sesekali. Tourism, apa yang kita produksi, mainkan itu terus. Dan masalah kualitas itu yang pertama. Untuk promosinya kita siap,” pungkasnya.

Togar menegaskan, kuliner Batak memiliki modal budaya dan kekayaan bahan lokal yang kuat. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut terus dikembangkan melalui inovasi, peningkatan kualitas, kemasan dan promosi agar mampu menjadi bagian dari pengalaman wisatawan sekaligus membuka peluang pasar bagi UMKM Samosir.(Samsir Sitanggang)

Exit mobile version