Daerah  

Event Internasional TOTK by UTMB di Samosir, Marshall Ngaku Tak Dapat Konsumsi dan Honor Belum Jelas, Anjing Berkeliaran di Jalur

deliksumut.com | Samosir – Kemeriahan ajang lari internasional Trail of The Kings (TOTK) by UTMB 2026 di Kabupaten Samosir mulai menuai sorotan. Di balik gegap gempita promosi pariwisata dan kedatangan ratusan pelari dari berbagai daerah bahkan mancanegara, muncul keluhan dari sejumlah petugas lapangan (Marshall) yang mengaku tidak memperoleh konsumsi selama bertugas serta belum mengetahui besaran honor yang akan mereka terima.

Temuan tersebut diperoleh deliksumut.com saat melakukan penelusuran di sejumlah titik lintasan lomba di wilayah Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Sabtu (13/6/2026).

Di salah satu titik lintasan, seorang Marshall yang mengenakan rompi kuning tampak berjaga di bawah terik matahari tanpa perlengkapan pelindung seperti topi. Kepada wartawan, pria bermarga Sinaga itu mengaku telah bertugas sejak pagi hari hingga sore, namun belum menerima konsumsi dari panitia.

Ia juga mengaku belum mendapatkan kepastian mengenai honor yang akan diterima meski kegiatan telah berlangsung.

“Belum ditentukan. Kalau tahun lalu saya ingat sudah ditentukan, memang tidak besar, sekitar Rp300 ribuan untuk satu hari satu malam. Sekarang sampai hari ini kami belum tahu berapa honornya. Makan pun kami tanggung sendiri, air minum juga kami bawa dari rumah. Seharusnya kalau memang tidak disediakan, ada pemberitahuan dari awal,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Marshall lainnya bermarga Sagala. Ia mengaku direkrut melalui pihak desa dan diinformasikan bahwa kebutuhan makan dan minum selama bertugas menjadi tanggung jawab masing-masing petugas.

“Belum dikasih tahu berapa honornya, bang. Untuk makan dan minum kami tanggung sendiri,” katanya singkat.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai perhatian panitia terhadap kesejahteraan petugas lapangan yang menjadi ujung tombak pengamanan dan kelancaran jalannya lomba. Padahal para Marshall bertugas berjam-jam di lapangan untuk memastikan peserta tidak keluar dari jalur dan menjaga keselamatan selama perlombaan berlangsung.

Tak hanya persoalan petugas lapangan, pelaksanaan event juga dinilai minim sosialisasi kepada sebagian warga yang lahannya dilintasi peserta lomba.

Seorang warga bermarga Sigiro yang lahannya menjadi bagian dari jalur lomba mengaku tidak pernah mendapat pemberitahuan langsung terkait pelaksanaan event tersebut. Ia mengungkapkan kekhawatirannya karena di sekitar lahan miliknya terdapat lima ekor anjing peliharaan.

“Kalau sebenarnya saya yang harus menjaga di sini, karena saya yang tahu kondisi peliharaan saya. Mereka tidak tahu situasi di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan pemilik lahan sangat penting untuk mengantisipasi potensi gangguan terhadap peserta.

“Kalau ada acara seperti ini seharusnya pemilik lahan dilibatkan. Misalnya kalau ada pelari digigit anjing, nanti yang disalahkan saya. Padahal saya tidak pernah diberitahu ada kegiatan ini,” katanya.

Pantauan di lapangan, sejumlah anjing peliharaan warga terlihat bebas berada di sekitar jalur lintasan peserta. Beruntung, hewan-hewan tersebut tidak menunjukkan perilaku agresif dan tidak mengganggu para pelari yang melintas.(Samsir Sitanggang)

Exit mobile version