deliksumut.com | Samosir — Memasuki hari ke-3 libur Lebaran 2026, arus kunjungan wisatawan ke Kabupaten Samosir melonjak tajam. Lonjakan ini terlihat jelas dari membludaknya penumpang di Pelabuhan Simanindo, Minggu (22/03/2026), yang dipadati wisatawan dari berbagai daerah.
Pantauan awak media di lokasi menunjukkan antrean panjang penumpang dan kendaraan, khususnya sepeda motor roda dua yang akan menyeberang menggunakan kapal tradisional.
Sejumlah kapal kayu tampak beroperasi penuh, bahkan mengangkut ratusan penumpang beserta ratusan unit sepeda motor dalam satu kali pelayaran.
Saat kapal sandar di pelabuhan Simanindo, ratusan kendaraan roda dua terlihat keluar secara bergantian. Mayoritas kendaraan berasal dari luar daerah seperti Pekanbaru dan Medan.
Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa Pulau Samosir masih menjadi destinasi favorit wisatawan untuk menghabiskan momen libur Lebaran, khususnya di kawasan Danau Toba.
Salah seorang wisatawan mengaku sengaja datang bersama keluarga untuk menikmati panorama alam Samosir.
“Kami ingin menghabiskan libur Lebaran di Samosir dan menjelajahi keindahan alamnya. Tempat ini memang sangat menarik untuk dikunjungi,” ujarnya.
Namun di tengah tingginya antusiasme tersebut, sejumlah penumpang mulai menyoroti aspek keselamatan, terutama terkait kapasitas angkut kapal yang dinilai sudah melebihi batas wajar.
“Kami berharap kapasitas kapal lebih diperhatikan. Di dalam kapal tadi terasa sangat padat, apalagi banyak sepeda motor ikut diangkut. Demi keselamatan, sebaiknya jumlah penumpang dan kendaraan dibatasi sesuai aturan,” ungkap salah satu penumpang.
Keluhan serupa juga disampaikan penumpang lainnya yang meminta adanya pengawasan lebih ketat dari pihak terkait, terutama saat lonjakan penumpang seperti musim libur Lebaran.
“Jangan sampai karena mengejar banyaknya penumpang, faktor keselamatan justru diabaikan. Harus ada pengawasan tegas,” tegasnya.
Lonjakan kunjungan ini memang menjadi sinyal positif bagi geliat pariwisata Kabupaten Samosir. Namun di balik itu, aspek keselamatan dan kenyamanan penumpang harus tetap menjadi prioritas utama bagi operator kapal maupun instansi terkait.
Sebagai catatan penting, pengawasan terhadap operasional kapal di perairan Danau Toba perlu terus diperketat agar tidak terulang kembali tragedi kelam seperti tenggelamnya KM Sinar Bangun pada tahun 2018 lalu. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa kelalaian terhadap kapasitas dan keselamatan dapat berujung fatal.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan tidak lengah, serta meningkatkan pengawasan secara maksimal demi menjamin keselamatan seluruh penumpang di tengah tingginya arus wisatawan. (Sam86)












