Kualitas Sierra Akustik Sianjur Mula mula Tampil Berkelas di Malam Senandung Bona Pasogit Horja Bius Mangalahat Horbo Samosir 2026

deliksumut.com | Samosir,- – Puncak kemeriahan Horja Bius Mangalahat Horbo 2026 dimeriahkan melalui hiburan rakyat bertajuk Malam Senandung Bona Pasogit yang berlangsung di Huta Sosor Nangka, Desa Aek Sipitu Dai, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Jumat (29/5/2026).

Malam puncak yang dikemas Pemerintah Kabupaten Samosir sebagai ruang bagi musisi Batak untuk menampilkan karya terbaiknya berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang memadati lokasi acara.

Berdasarkan poster resmi yang dipublikasikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, tiga penampil utama yang mengisi panggung Malam Senandung Bona Pasogit adalah Duo Naimarata, Family Voice, dan Solution Band. Ketiganya merupakan musisi yang sudah tidak asing lagi bagi penikmat musik Batak.

Namun di tengah deretan nama besar tersebut, perhatian masyarakat juga tertuju pada penampilan Sierra Akustik, grup musik akustik yang digawangi dua musisi asal Kecamatan Sianjur Mula-Mula, yakni Henry Limbong dan Manogu Sinaga.

Meski foto mereka tidak terpampang dalam materi promosi acara, Permainan gitar akustik Sierra Akustik yang jernih berpadu dengan vokal khas berkarakter kuat, menciptakan harmoni berkualitas yang membuktikan musisi Sianjur Mula-Mula mampu tampil berkelas dipanggung acara daerah.

Sierra Akustik berhasil memukau hampir seribu warga di bawah suasana malam yang hangat dan diterangi cahaya bulan, Henry Limbong dan Manogu Sinaga tidak hanya menyajikan musik, tetapi juga membangun komunikasi yang akrab dengan masyarakat melalui candaan dan interaksi yang menghidupkan suasana.

Pada kesempatan tersebut, Sierra Akustik mendapat kesempatan membawakan tiga lagu, salah satunya lagu ciptaan Henry Limbong berjudul Togu Ma Au Tuhan.

Saat diwawancarai usai penampilan, Henry Limbong menjelaskan bahwa nama Sierra Akustik memiliki makna yang dekat dengan aktivitas yang mereka gemari.

“Sierra artinya pegunungan, dari Bahasa Spanyol. Kebetulan kami suka naik gunung,” ujar Henry.

Saat ini Sierra Akustik masih terdiri dari dua personel, yakni dirinya dan Manogu Sinaga. Meski demikian, ia mengaku memiliki keinginan untuk menambah anggota di masa mendatang.

“Personel tetap masih kami berdua. Pasti ada rencana menambah personel, tetapi untuk saat ini belum ada yang pas di hati,” katanya.

Henry juga mengungkapkan kisah di balik lagu Togu Ma Au Tuhan yang ia ciptakan. Menurutnya, lagu tersebut lahir dari peristiwa besar yang mengguncang dunia, yakni tsunami Aceh tahun 2004.

“Pada waktu kejadian Tsunami Aceh 2004, di saat itulah tercipta lagu Togu Ma Ahu Tuhan. Di mana alam semesta berbicara melalui air yang menyapu dan merenggut puluhan ribu nyawa manusia dalam seketika, baik bayi, anak-anak, remaja maupun orang tua, kaya ataupun miskin,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam dirinya.

“Saya hanya bisa menangis dan berdoa melihat kejadian itu dari media televisi. Kita semua manusia tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Tidak lama kemudian ilham mengalir di dalam hati dan benak saya, akhirnya saya menuliskan lirik Togu Ma Ahu Tuhan,” ujarnya.

Tampil di hadapan masyarakat kampung halamannya sendiri menjadi pengalaman yang membahagiakan bagi Henry dan Manogu.

“Hati senang dan bahagia pastinya,” kata Henry singkat.

Sebagai musisi asli Samosir, Henry juga menyampaikan harapannya kepada Pemerintah Kabupaten Samosir, khususnya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, agar memberikan ruang yang lebih luas kepada para seniman lokal.

“Harapan saya ke depan agar Pemerintah Kabupaten Samosir, terkhusus Disbudpar Samosir, supaya memberi ruang dan kesempatan untuk ambil bagian di setiap ada event ataupun pagelaran seni budaya di Kabupaten Samosir,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan Sierra Akustik dalam agenda Samosir Music International yang akan datang, Henry mengaku hingga saat ini belum ada komunikasi maupun pelibatan dari pihak penyelenggara.

“Tidak ada sama sekali,” katanya.

Kepada generasi muda Samosir yang menekuni dunia seni musik Batak, Henry berpesan agar terus berkarya dan menjaga etika dalam berkesenian.

“Bekerja keras dan tetaplah berkarya menyuarakan isi hati. Jaga etika dan tata krama,” pesannya.

Penampilan Sierra Akustik di Malam Senandung Bona Pasogit menjadi bukti bahwa musisi lokal Samosir, khususnya dari Kecamatan Sianjur Mula-Mula, memiliki potensi dan karya yang mampu menghibur masyarakat serta mendapat apresiasi dari penonton.

Meski tampil tanpa sorotan besar dalam promosi acara, kehadiran mereka justru menjadi salah satu warna tersendiri dalam kemeriahan Horja Bius Mangalahat Horbo 2026.

Selain tampil dalam berbagai kegiatan seni budaya, Sierra Akustik juga dikenal masyarakat setempat karena kerap menghibur para parmitu di lapo tuak milik Henry Limbong yang berada di Desa Aek Sipitu Dai.

Salah seorang warga Desa Aek Sipitu Dai bermarga Limbong mengatakan suasana yang dibangun Sierra Akustik mengingatkan pada tradisi kebersamaan masyarakat Batak tempo dulu.

“Kalau suka dengan suasana Lapo tuak seperti jaman dulu, datang aja ke Lapo salah satu personil Henry limbong, disitu pasti dihibur sama mereka dengan permainan gitar akustik mereka yang menurut saya sangat berkelas,” ujarnya.

Penampilan Sierra Akustik di panggung Malam Senandung Bona Pasogit juga menjadi pengingat bahwa Samosir tidak kekurangan talenta musik lokal yang berkualitas. Di tengah persiapan penyelenggaraan Samosir Music International dalam waktu dekat, keterlibatan musisi-musisi lokal semestinya menjadi perhatian penting bagi penyelenggara maupun pemerintah daerah.

Samosir selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan seni, budaya, dan musik Batak. Banyak musisi lokal yang tumbuh dari komunitas, sanggar seni, gereja, hingga panggung-panggung rakyat. Mereka mungkin belum memiliki popularitas setingkat musisi nasional maupun internasional, namun dari sisi kemampuan bermusik dan kualitas karya, tidak sedikit yang mampu bersaing.

Melibatkan musisi lokal dalam event berskala internasional bukan hanya soal memberikan kesempatan tampil, tetapi juga menjadi bentuk keberpihakan terhadap ekosistem seni daerah. Kehadiran mereka di panggung yang sama dengan musisi yang telah memiliki nama besar dapat menjadi sarana pembelajaran, memperluas jaringan, sekaligus membuka peluang promosi yang lebih luas.

Sierra Akustik merupakan salah satu contoh bahwa talenta lokal Samosir mampu mencuri perhatian publik meski tampil dengan konsep sederhana. Jika diberikan ruang dalam agenda Samosir Music International, grup-grup musik seperti Sierra Akustik berpotensi menjadi duta budaya yang memperkenalkan warna musik khas Samosir kepada audiens yang lebih luas.

Momentum event internasional seharusnya tidak hanya menjadi ajang menghadirkan musisi dari luar daerah, tetapi juga menjadi jembatan bagi musisi lokal untuk dikenal masyarakat nasional bahkan mancanegara. Dengan demikian, manfaat penyelenggaraan event tidak hanya dirasakan sektor pariwisata, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi perkembangan industri kreatif dan regenerasi musisi di Kabupaten Samosir. (Samsir Sitanggang)

Exit mobile version