deliksumut.com | Samosir – Ditemani kopi panas, semilir angin Danau Toba, dan panorama biru yang membentang tenang, diskusi ringan namun sarat gagasan mengalir di sebuah coffee shop di Jalan Tele, Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (30/1/2026).
Tiga jurnalis Kabupaten Samosir, Efendy Naibaho, Niolando Naibaho, dan Samsir Sitanggang, larut dalam perbincangan hangat seputar arah pariwisata dan kebudayaan Sumatera Utara.
Di tengah suasana santai itu, Efendy Naibaho—mantan anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara sekaligus tokoh pers—melontarkan gagasan strategis: Pekan Kebudayaan Batak (PKB) didorong masuk sebagai agenda resmi dalam Calendar of Event (CoE) Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Gagasan tersebut mengemuka seiring peluncuran Calendar of Event Sumut 2026 yang dipusatkan di Kabupaten Samosir, hasil sinergi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama Bupati dan Wakil Bupati Samosir. Sejumlah agenda berskala nasional hingga internasional telah dijadwalkan, di antaranya:
Trail of The Kings by UTMB (12–14 Juni 2026)
Festival Danau Toba (Juni/Juli 2026)
Samosir Music International (2–4 Juli 2026)
Samosir International Choir Competition (24–27 September 2026)
Deretan agenda tersebut semakin menegaskan posisi Samosir sebagai destinasi unggulan pariwisata nasional. Namun menurut Efendy, penguatan pariwisata harus berjalan seiring dengan penguatan budaya.
“Samosir semakin berkelas. Tinggal bagaimana budaya lokal ditempatkan sebagai roh utama pariwisata,” ujar Efendy Naibaho sembari memandang hamparan Danau Toba.
Tak hanya itu, Efendy juga mengusulkan peringatan Hari Ulos Nasional, 17 Oktober 2026, dirayakan secara kolosal dengan mengarak ulos sepanjang 1.000 meter mengelilingi Pulau Samosir. Sementara pada HUT ke-81 RI, 17 Agustus 2026, ia mendorong digelarnya Festival Tano Ponggol, yang diisi lomba Solu Bolon, renang 1.000 meter di Terusan Tano Ponggol, lomba mangungkor, hingga lompat indah dari Jembatan Tano Ponggol.
Lebih jauh, Efendy menilai Danau Toba yang dikelilingi tujuh kabupaten dan dihuni mayoritas masyarakat Batak Toba sudah sepantasnya memiliki satu event budaya pemersatu. Karena itu, Pekan Kebudayaan Batak (PKB) dinilai strategis untuk masuk dalam kalender resmi Pemprov Sumut.
Ia menyebut pusat kegiatan PKB idealnya berada di Sianjur Mula-mula, Pusuk Buhit, yang diyakini sebagai asal muasal peradaban Batak. Dari titik sakral tersebut, rangkaian festival dapat digelar lintas kabupaten, seperti:
Festival Tano Ponggol di Pangururan
Festival Aek Sigeaon di Tarutung
Festival Aek Sibundong di Dolok Sanggul
Festival Sungai Asahan di Porsea
“Pekan Kebudayaan Batak bukan sekadar perayaan, tetapi penguatan identitas, sejarah, dan kebanggaan orang Batak. Ini harus menjadi event pemersatu Sumatera Utara,” tegas Efendy.
Dukungan serupa disampaikan Niolando Naibaho. Menurutnya, PKB akan semakin kuat jika diisi dengan event ikonik khas Danau Toba, salah satunya Solu Bolon.
“Solu Bolon bukan sekadar lomba perahu, tetapi simbol peradaban dan budaya maritim Batak. Jika menjadi agenda utama Pekan Kebudayaan Batak, ini akan menjadi daya tarik budaya dan pariwisata yang berkelas serta berakar,” ujarnya.
Sejalan dengan semangat pelestarian budaya, Efendy Naibaho yang juga Ketua Yayasan Pusuk Buhit menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan. Ia mencanangkan Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan Menebar Sejuta Bibit Ikan di kawasan Danau Toba sepanjang 2026.
Gerakan bertajuk #SaveTheTao ini bertujuan memulihkan ekosistem Danau Toba, baik perairan maupun daratan, dengan melibatkan tujuh kabupaten kawasan Danau Toba—Samosir, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, dan Simalungun—serta berbagai elemen masyarakat dan komunitas lingkungan.
Khusus di kawasan Pusuk Buhit, penanaman difokuskan pada pohon bernilai budaya dan ekologis seperti beringin, jabi-jabi, dan hariara. Penanaman massal direncanakan berlangsung pada April 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Dunia.
Diskusi sederhana di tepi Danau Toba itu pun menjelma menjadi refleksi besar: bahwa pariwisata, budaya, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dari secangkir kopi dan obrolan antarjurnalis, lahir gagasan tentang bagaimana Danau Toba dan kebudayaan Batak dijaga, dirawat, dan diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi mendatang.
(Samsir Sitanggang)
