deliksumut.com | Samosir — Suasana duka masih menyelimuti rumah orang tua seorang remaja yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di Lottung Tua, Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo, Kamis (2/4/2026).
Di rumah sederhana tersebut, ayah korban, Tunggul Sidabutar, mengenang sosok anaknya sebagai pribadi yang baik namun tertutup.
“Si Putra semasa hidupnya baik, tapi dia pendiam dan tidak mau terbuka, pendiam dia,” ungkapnya.
Ia menceritakan keseharian anaknya sepulang sekolah. Menurutnya, Putra lebih sering menyendiri di rumah.
“Kalau sudah pulang sekolah dia selalu menyendiri, kalau malam belajar, dan sesudah itu main hp androidnya. Kalau paketnya habis dia suka numpang wifi di warung, Putra juga mau bantu orangtua diladang” katanya.
Tunggul juga menjelaskan bahwa anaknya memilih berjalan kaki dari sekolah di Tomok menuju rumah mereka di Hutaginjang atas keinginannya sendiri, meskipun orang tua selalu memberikan uang transport.
“Ongkos ke sekolah selalu dipenuhi. Putra dan adiknya putri diberikan Rp30.000 per hari. ‘Ongkos sama apalah itu, sama jajan,’” ujarnya.
Sementara itu, adiknya, Putri, selalu menggunakan angkutan umum untuk pergi dan pulang sekolah.
“Naik mobil kalau dia,” ucapnya.
Saat ditanya alasan Putra tidak membawa sepeda motor, Tunggul menjelaskan bahwa anaknya memang tidak bisa mengendarainya.
Ia juga menceritakan kondisi ekonomi keluarga mereka. Rumah yang kini berdinding tembok dulunya hanya berdinding papan, sebelum akhirnya mendapat bantuan bedah rumah dari pemerintah.
“Terusnya kami dapat bantuan,” kata istrinya.
Selain itu, keluarga ini juga mengaku menerima berbagai bantuan sosial dari Pemerintah Kabupaten Samosir yang disalurkan melalui pemerintah desa dan kecamatan.
Dalam keseharian, Tunggul bekerja sebagai petani dengan menanam kopi dan kemiri di sekitar rumahnya. Namun penghasilan dari hasil panen tidak menentu, sehingga ia kerap bekerja di ladang orang lain.
“Kalau tidak ada hasilnya, pergilah ke ladang orang kalau ada yang nyuruh,” katanya.
“Kalau di kampung kami ini, biasalah, bisalah sekedar cukup makan.”
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kebutuhan sekolah anak-anaknya selalu menjadi prioritas utama.
“Tetap kami penuhi itu, tidak pernah tertunda uang sekolah,” tegasnya.
Hal yang sama juga dilakukan untuk Putri, yang kini duduk di bangku SMP Negeri 1 Simanindo. Orang tua berusaha memenuhi setiap kebutuhan sekolah, bahkan dengan cara mencicil jika diperlukan. Seperti membayar kebutuhan sekolah sebesar 280ribu.
Pasangan suami istri ini juga menegaskan bahwa rumah tangga mereka selama ini harmonis dan jauh dari pertengkaran, terlebih di hadapan anak-anak mereka.
Menanggapi isu yang menyebutkan bahwa kematian anaknya dipicu faktor ekonomi, Tunggul dengan tegas membantah.
“Kalau saya begini, kalau ada yang bilang karena ekonomi, pokoknya anak saya, saya junjung saya perjuangkan,” ujarnya.
Menurut pengakuan istrinya, Ia pernah membaca pesan WhatsApp di ponsel android anaknya bahwa ada temannya mengirimkan pesan dengan menyebutkan nama ayahnya yaitu “Tunggul”. Selain itu, Putra juga pernah meminta pindah sekolah ke Medan.Tuturnya.
Hingga kini, keluarga masih mencari jawaban atas peristiwa tragis tersebut. Harapan mereka tertuju pada ponsel milik Putra yang masih terkunci.
Menurut keterangan pihak keluarga, ponsel Android milik Putra tidak diamankan oleh pihak kepolisian karena berada dalam kondisi terkunci (pola) sehingga tidak dapat diakses, dan selanjutnya ponsel tersebut dikembalikan kepada pihak keluarga.
Adiknya, Putri Anggia Sidabutar, mencoba membuka pola kunci handphone abangnya dengan harapan menemukan petunjuk.
Kini, Tunggul Sidabutar bersama istrinya Betty Agustina Sihombing bertekad untuk terus memperjuangkan pendidikan Putri, satu-satunya anak yang kini tinggal bersama mereka.
Sementara itu, salah satu keluarga dekat, HS, yang merupakan adik ipar orang tua korban, turut memberikan kesaksian mengenai keseharian Putra.
“Jadi sehari-hariannya juga, kami jarang ketemu dengan si Putra. Tapi menurut masyarakat sini, Putra anak kami ini pendiam memang. Jadi ga terbuka orangnya, tertutup,” katanya.
Ia juga menerangkan kondisi ekonomi keluarga tersebut saat ditanya oleh wartawan.
“Kalau dari ekonomi memang kurang, yang cari nafkah kan cuma amang haha doli ku (kakak ipar). Kami memang di sini gak punya tanah. Dulu memang amang itu kerja di Aqua Farm, sekarang sehari-harinya kerja di ladang dekat rumah. Kalau ada yang butuh tenaga kerja diladang, kakak iparku kerja di situ. Tapi tidak sering, kalau ada yang butuh saja. Kakak iparku itu kalau untuk biaya sekolah anak pasti diusahakan.”Terangnya
HS juga mengaku pernah menyampaikan kepada keluarga agar tidak sungkan meminta bantuan jika membutuhkan.
Untuk memastikan kondisi sosial ekonomi keluarga, dilakukan penelusuran ke Kantor Desa Hutaginjang dan pengecekan data.
Berdasarkan data desa, keluarga tersebut tercatat sebagai penerima berbagai bantuan sosial, di antaranya:
Penerima PKH tahun 2021–2023
Bantuan bedah rumah tahun 2021
BLT Dana Desa (Kesra) tahun 2025 serta bantuan beras 10 kg dan minyak makan 4 kg
Penerima BPNT tahun 2026
Data tersebut menunjukkan bahwa keluarga telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, baik melalui program pusat maupun daerah.(Sam86)
