deliksumut.com | Samosir – Perayaan Hari Jadi ke-22 Kabupaten Samosir berlangsung meriah dan penuh kehangatan. Ribuan masyarakat dan pengunjung memadati lokasi acara, menikmati rangkaian kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Samosir di Waterfront city Pangururan.
Momen bahagia itu tidak hanya dirasakan warga lokal, tetapi juga wisatawan mancanegara. Empat turis asal Belanda yang tengah berlibur di Samosir turut larut dalam suasana perayaan. Mereka dipandu oleh guide lokal, Daniel L Manik, yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia Kabupaten Samosir.
Saat ditemui awak media (27/02/2026) di stan UMKM Kopling milik Sariaman L Manik, para turis tersebut tampak menikmati kopi asli Samosir sambil mengamati suasana keramaian.
“Kami melihat banyak orang ramah yang berkumpul di sini, dan kami bertemu orang-orang ramah yang merayakan sesuatu yang indah. Kami juga sudah membeli produk lokal Samosir dan juga kopi dari Samosir. Mantap,” ujar Sineke, salah seorang turis, dalam bahasa Inggris
Daniel L Manik mengungkapkan kebanggaannya bisa mendampingi para tamu asing tersebut di momen spesial hari jadi kabupaten. Ia menyebut, para wisatawan Belanda itu mengakui keunikan Samosir, mulai dari kuliner yang lezat hingga keramahan masyarakatnya.
“Mereka mengakui bahwa Samosir itu unik, makanannya enak, dan yang paling utama mereka lihat adalah penduduknya ramah-ramah” ujar Daniel.
Tak hanya itu, para turis tersebut juga merasa tersanjung karena mendapat kesempatan berjabat tangan dan berfoto bersama Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom dan Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk.
“Mereka sangat surprise karena tidak menyangka bisa langsung berjabat tangan dan berfoto bersama Pak Bupati dan Wakil Bupati. Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi mereka,” tambahnya.
Sebagai pelaku pariwisata, Daniel juga menyampaikan harapannya agar perayaan Hari Jadi Kabupaten Samosir ke depan dapat dikemas lebih semarak dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, perayaan dapat diisi dengan festival atau parade arak-arakan yang melibatkan 128 desa dan 6 kelurahan, atau minimal perwakilan dari setiap kecamatan di Samosir. Parade tersebut bisa menampilkan produk unggulan dan potensi lokal masing-masing desa atau kecamatan, dengan pusat kegiatan di Pangururan sebagai ibu kota kabupaten.
“Mirip seperti Pesta Njuah-Juah di Dairi atau Pesta Buah dan Bunga di Berastagi. Jadi potensi lokal benar-benar ditonjolkan,” katanya.
Ia juga menilai panggung hiburan sebaiknya lebih mengutamakan pelaku seni lokal, seperti komunitas seni, penari, dan vocal group yang ada di setiap desa dan kecamatan di Samosir.
“Karena ini pesta kabupaten, seharusnya masyarakat Samosir yang paling merasakan dampaknya. Banyak komunitas seni di Samosir yang bisa diberdayakan tanpa harus selalu mendatangkan artis dari luar daerah,” tegas Daniel.(Sam86)












