Daerah  

Proyek Jembatan Sigarantung Samosir Rp30 Miliar Disorot, Kualitas Beton Dipertanyakan

deliksumut.com | Samosir – Pembangunan proyek Jembatan Sigarantung di Dusun III Sigarantung, Desa Hutaginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, kembali menjadi perhatian publik. Setelah sebelumnya pembangunan akses jalan nasional penghubung Tomok–Onan Runggu mulai dikerjakan pasca longsor April 2025 lalu, kini kualitas pekerjaan struktur jembatan turut disorot sejumlah pihak.

Proyek pembangunan jembatan yang memiliki pagu anggaran sebesar Rp30.743.005.612 tersebut dipertanyakan terkait metode pengecoran beton yang diduga dilakukan secara manual menggunakan self loader di lokasi pekerjaan, bukan menggunakan beton siap pakai dari batching plant atau pabrikan.

Sorotan tersebut disampaikan salah seorang pelaku jasa konstruksi, Henry Sitanggang. Ia menilai metode produksi beton secara manual pada pekerjaan struktur jembatan sangat berisiko terhadap mutu konstruksi.

“Jika pekerjaan struktur jembatan dilakukan dengan memproduksi beton secara manual atau menggunakan self-loader, tentu sangat riskan. Mutu beton dikhawatirkan tidak setara atau tidak sesuai standar,” ujar Henry kepada wartawan, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, pekerjaan struktur utama jembatan seperti bore pile maupun abutmen membutuhkan mutu beton tinggi, bahkan mencapai FC 30 atau setara mutu di atas K-350 sehingga proses produksi beton harus benar-benar terjamin kualitasnya.

Selain mutu beton, Henry juga mempertanyakan kemampuan produksi beton manual di lokasi proyek untuk memenuhi kebutuhan volume pekerjaan sesuai target progres pembangunan.

“Dengan produksi manual di lokasi kegiatan, apakah volume atau kubikasi beton yang dihasilkan bisa memenuhi progres pekerjaan tepat waktu?” katanya.

Ia juga menyoroti sumber material pasir dan kerikil yang digunakan dalam proyek tersebut. Menurut Henry, kualitas material menjadi faktor penting dalam menentukan kekuatan struktur jembatan, terlebih kawasan Sigarantung dikenal rawan longsor dan pergeseran tanah.

“Apalagi jika sumber pasir dan kerikil yang digunakan tidak layak pakai atau asal-usulnya tidak jelas. Belum lagi jika material tersebut berasal dari lokasi yang tidak memiliki izin,” tambahnya.

Henry menyebutkan, sebenarnya terdapat batching plant atau pabrik beton siap pakai di Pangururan yang dinilai mampu menyuplai kebutuhan beton proyek sehingga kualitas pekerjaan lebih terjamin dan sesuai standar konstruksi.

Ia berharap pembangunan jalan dan jembatan Sigarantung dapat dikerjakan secara maksimal mengingat keberadaannya sangat vital sebagai akses jalan nasional lingkar Samosir sekaligus memiliki panorama Danau Toba yang dinilai berpotensi menjadi ikon kawasan.

“Kita berharap pengerjaan Jembatan Sigarantung ini berjalan dengan baik karena akan menjadi ikon dengan view Danau Toba. Lokasi Sigarantung sangat rawan longsor dan pergeseran tanah. Jika pengerjaan strukturnya tidak sesuai standar, tentu bisa fatal karena jalan jembatan tersebut merupakan akses jalan nasional lingkar Samosir,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak kontraktor pelaksana proyek yang diketahui bermarga Panggabean belum memberikan keterangan resmi meski telah dikonfirmasi http://deliksumut.com melalui pesan WhatsApp.(Sam86)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *