deliksumut.com | Samosir,- Aek Rangat Hot Spring Pangururan merupakan salah satu destinasi unggulan di Pulau Samosir yang tak pernah kehilangan daya tarik. Terletak di kaki Gunung Pusuk Buhit, kawasan ini dikenal sebagai pemandian air panas alami yang menyuguhkan pengalaman relaksasi sekaligus panorama menakjubkan ke arah Danau Toba.
Pada hari-hari biasa, Aek Rangat selalu dikunjungi masyarakat lokal. Sementara pada musim libur besar, kawasan ini semakin ramai oleh perantau yang pulang kampung hingga wisatawan domestik dan mancanegara yang ingin merasakan sensasi berendam di air panas belerang alami.
Daya Tarik yang Sulit Ditandingi
Keunggulan utama Aek Rangat terletak pada sumber air panas alami yang berasal dari aktivitas vulkanik kawasan Pusuk Buhit. Airnya yang hangat dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan, seperti membantu meredakan pegal linu, rematik, hingga masalah kulit.
Selain itu, wisatawan dapat menikmati pengalaman unik: berendam sambil memandang langsung hamparan Danau Toba dari sekitaran lokasi permandian. Kombinasi antara relaksasi dan panorama alam ini menjadikan Aek Rangat sebagai destinasi “signature” Pangururan.
Konsep wisata di tempat ini cukup sederhana namun efektif—berendam selama 1–2 jam, beristirahat, lalu menikmati kuliner lokal di sekitar lokasi. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari, ketika wisatawan bisa menikmati matahari terbenam yang memperindah suasana.
Sebagai bagian dari kawasan geowisata Pusuk Buhit yang termasuk dalam bentang Kaldera Toba, keberadaan Aek Rangat juga menjadi bukti nyata aktivitas geologi yang membentuk kawasan ini.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung, disarankan membawa pakaian ganti dan handuk, mengingat air belerang memiliki aroma khas yang cukup kuat. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurangi minat pengunjung untuk datang kembali.
Di balik pesonanya, kondisi infrastruktur pendukung di kawasan ini justru memprihatinkan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pelabuhan yang berada di sekitar Aek Rangat. Pelabuhan tersebut sejatinya memiliki potensi besar sebagai pintu masuk wisata sekaligus ruang tambahan bagi pengunjung untuk menikmati panorama Danau Toba.
Namun, berdasarkan pantauan pada 26 April 2026, fasilitas pelabuhan tampak tidak terawat. Area dipenuhi rumput liar, papan informasi berkarat hingga tidak terbaca, serta sejumlah fasilitas seperti ruang tunggu, kios, kamar mandi, dan pos loket dalam kondisi rusak dan tidak difungsikan.
Padahal, jika dikelola dengan baik, kawasan ini dapat menjadi pusat aktivitas wisatawan yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar, termasuk para pedagang lokal, serta berpotensi menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Keluhan Warga dan Risiko Keselamatan
Warga sekitar menyebutkan bahwa pelabuhan tersebut sebenarnya masih sering digunakan sebagai tempat berlabuh kapal wisata yang membawa pengunjung ke Aek Rangat dari Ajibata, Tomok dan Simanindo. Namun ironisnya, fasilitas pendukung justru dibiarkan terbengkalai tanpa pemanfaatan.
Akses menuju pelabuhan juga menjadi perhatian serius. Jalan dengan lebar sekitar 2,5 meter dinilai berbahaya karena terdapat saluran air terbuka di tengah badan jalan. Beberapa kendaraan dilaporkan pernah terperosok akibat kondisi tersebut. Warga berharap pemerintah segera melakukan perbaikan demi keselamatan pengguna jalan.
Respons Pemerintah Dinilai Belum Maksimal
Menanggapi kondisi tersebut, Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir sempat melakukan pembersihan pada 1 Mei 2026. Namun, hasilnya dinilai belum optimal. Pada keesokan harinya, masih banyak area yang belum tersentuh, termasuk bagian depan kios, ruang tunggu, dan toilet.
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi terkait anggaran pemeliharaan pelabuhan. Sementara itu, fasilitas lain yang berada di bawah kewenangan Dinas Pariwisata juga masih terbengkalai tanpa kejelasan penanganan.
Kritik terhadap Pengelolaan Pariwisata
Kondisi ini memunculkan kritik dari masyarakat terhadap pengelolaan sektor pariwisata di Kabupaten Samosir. Sejumlah pihak menilai bahwa pemerintah daerah belum optimal dalam memanfaatkan fasilitas yang telah dibangun.
Sebelumnya, media deliksumut.com juga menyoroti kondisi objek wisata Pallombuan yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp7,2 miliar namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Hal serupa dinilai terjadi di berbagai titik lain.
Masyarakat menilai bahwa pengembangan pariwisata masih bergantung pada proyek dari pemerintah pusat, seperti kawasan Waterfront City dan Menara Pandang Tele, sementara pengelolaan fasilitas yang telah ada belum berjalan efektif.
Antara Harapan dan Kenyataan
Aek Rangat Pangururan tetap menjadi kebanggaan Samosir—ikon wisata yang menawarkan keindahan alam dan pengalaman unik. Namun, tanpa pengelolaan yang serius dan berkelanjutan, potensi besar yang dimiliki kawasan ini berisiko tidak memberikan manfaat maksimal bagi daerah dan masyarakat.
Perbaikan infrastruktur, pemeliharaan fasilitas, serta sinergi antarinstansi menjadi kunci agar Aek Rangat tidak hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena kualitas pengelolaannya yang mampu bersaing sebagai destinasi wisata kelas dunia.(Sam86)












