Di Balik Rumpun Bambu, Benteng Batu Huta Sosor Silangit di Kenegerian Sihotang Menolak Punah

SAMOSIR | deliksumut.com — Di balik rumpun bambu yang tumbuh lebat, susunan batu tua masih berdiri membentuk benteng yang mengelilingi sebuah perkampungan.

Lokasinya tidak jauh dari objek wisata Bukit Holbung, hanya sekitar lima menit perjalanan. Tepatnya di Desa Siparmahan, Kenegerian Sihotang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir.

Perkampungan tua itu bernama Huta Sosor Silangit.

Di dalamnya masih berdiri sejumlah bangunan tradisional Batak Toba, mulai dari Sopo, Rumah Bolon, rumah panggung hingga peninggalan berupa lesung batu.

Jejak itu menjadi bagian dari perjalanan keturunan Oppung Jaihutan Sihotang yang hingga kini masih dijaga oleh keturunannya.

Salah satunya Berman Sihotang, generasi kelima dari Oppung Jaihutan Sihotang, yang masih memilih bertahan dan menjaga keberadaan Huta tersebut.

Saat ditemui deliksumut.com, Sabtu (19/9/2026), Berman menjelaskan bahwa Huta Sosor Silangit merupakan bagian dari perjalanan panjang keturunan leluhurnya.

“Ini namanya Huta Sosor Silangit, jadi ini di Kenegerian Sihotang, tempat opung mulai dari Opung Jaihutan Sihotang sampai Opung Nagari sampai kami sekarang,” ujar Berman.

*Benteng Batu yang Menjadi Batas Huta*

Dari luar, Huta Sosor Silangit sekilas sulit terlihat karena tertutup rumpun bambu.

Namun ketika didekati, tampak susunan batu-batu besar yang mengelilingi kawasan Huta.

Batu gunung tersebut disusun tanpa menggunakan semen dengan tinggi sekitar 1,5 hingga 2 meter. Susunannya membentuk Parik Huta, benteng tradisional yang menjadi batas kawasan perkampungan.

Rumpun bambu yang tumbuh di atas dan sekitar susunan batu semakin memperkuat kesan bahwa Huta tersebut memiliki benteng alami.

Menurut Berman, Parik merupakan bagian dari konsep awal pembangunan Huta.

“Untuk membuat kampung ini, Huta ini memang dulu disusun batu sekeliling, Parik Huta itulah dibuat,” katanya.

Susunan batu tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kawasan perkampungan pada masa lalu tidak dibangun secara sembarangan, melainkan memiliki batas dan tata ruang tersendiri.

*Harbangan dan Tatanan Perkampungan*

Memasuki Huta Sosor Silangit, terdapat Harbangan atau gerbang masuk yang juga tersusun dari batu.

Dari gerbang tersebut, terlihat sejumlah bangunan mengelilingi halaman terbuka di tengah Huta.

Di sisi kanan Harbangan berdiri dua bangunan Sopo dengan atap tinggi dan ornamen tanduk kerbau pada bagian ujungnya.

Sementara di sisi kiri terdapat rumah panggung yang masih digunakan sebagai tempat tinggal. Bangunan tersebut relatif lebih muda, namun masih mengikuti garis tatanan perkampungan.

Di bagian ujung berdiri sebuah Rumah Bolon, salah satu bentuk rumah tradisional Batak yang masih tersisa di kawasan tersebut.

Susunan bangunan yang mengitari halaman memperlihatkan pola ruang yang teratur.

Di salah satu halaman Sopo juga terdapat tiga lesung batu.

Salah satunya memiliki pahatan menyerupai wajah manusia pada bagian sisi kanan dan kirinya.

Bagi Berman, bentuk pengerjaan lesung tersebut menjadi bukti keterampilan masyarakat masa lalu dalam mengolah batu.

“Ini losung dipahat zaman dulu begitu rapi, halus cara kerjanya. Enggak tahu kayak mana dulu cara buatnya,” ucapnya.

Sopo, Tempat Kehidupan Sosial Masa Lalu

Salah satu peninggalan yang masih berdiri adalah Sopo.

Bangunan tersebut ditopang delapan tiang kayu berukuran besar. Tiangnya dibuat dari kayu utuh berbentuk bulat, dengan lekukan menyerupai leher pada bagian tengah serta piringan kayu berbentuk bulat pada bagian atas.

Menurut Berman, Sopo memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Selain menjadi tempat berkumpul, Sopo digunakan untuk membicarakan berbagai persoalan yang menyangkut kehidupan masyarakat.

“Salah satunya adalah Sopo, tempat rapat raja-raja dulu. Memang kalau kita lihat sekarang hanya ini, umurnya sudah ratusan tahun dan sekarang ini sudah jarang kita jumpai, mungkin enggak ada lagi seperti ini,” katanya.

Berman kemudian menunjuk salah satu Sopo yang berada dekat dengan Harbangan.

Menurut cerita yang diwariskan orang-orang tua, bangunan tersebut merupakan Sopo pertama dan memiliki usia lebih tua.

“Ini Sopo pertama yang sebenarnya,” kata Berman. “Ini yang lebih tua. Kalau orang-orang tua bilang, Sopo ini dulu untuk tempat para wanita.”

Sopo juga menjadi tempat membicarakan berbagai persoalan kehidupan masyarakat.

“Contoh paradaton, pembagian air dan segala macam,” jelasnya.

Keterangan tersebut menggambarkan bahwa Sopo bukan sekadar bangunan tradisional, tetapi pernah menjadi bagian dari ruang sosial masyarakat.

*Ketika Generasi Mulai Berpencar*

Di balik bangunan dan batu-batu tua itu terdapat persoalan lain: siapa yang akan menjaga Huta ketika generasi terus bertambah dan mulai berpencar?

Berman mengatakan, keturunan Oppung Jaihutan Sihotang pada dasarnya memiliki kesempatan untuk tinggal di Huta Sosor Silangit.

Namun, menurutnya, saat ini hanya sedikit yang masih memilih menetap.

“Siapa pun bisa tinggal di sini, tapi hanya saya yang mau,” ujarnya.

Kalimat tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi Huta Sosor Silangit.

Sebab mempertahankan sebuah perkampungan tua tidak cukup hanya dengan menjaga bangunan. Diperlukan pula generasi yang memahami sejarah, tinggal di dalamnya, serta bersedia merawat peninggalan leluhur.

Seiring waktu, sejumlah bangunan mulai menunjukkan tanda-tanda usia.

Atap seng terlihat berkarat. Beberapa bagian tiang kayu mulai mengalami kemiringan.

Namun struktur utama Huta masih dapat dikenali.

Parik masih mengelilingi kawasan. Harbangan masih menjadi pintu masuk. Sopo masih berdiri dengan tiang-tiang kayunya. Rumah Bolon dan lesung batu juga masih menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Bagi Berman, semua itu bukan sekadar benda tua.

Peninggalan tersebut merupakan bagian dari jejak leluhur yang harus dipertahankan.

*Menolak Hilang Bersama Zaman*

Berman berharap Huta Sosor Silangit dapat dibenahi dan ditata sehingga peninggalan yang ada tetap dapat dilihat dan dikenali oleh generasi berikutnya.

Menurutnya, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membersihkan dan menata kawasan Huta.

“Yang pertama sekali kita membenahi ini supaya bersih dan indah. Kalau boleh dari pemerintah mungkin diberikan bantuan penataan-penataan, entah apa namanya. Tapi ini memang perlu dilestarikan sebagai budaya Batak gitu, karena tidak ada lagi tempat seperti ini, Sopo seperti ini tidak ada lagi,” harapnya.

Huta Sosor Silangit pada akhirnya bukan hanya tentang rumah tua atau susunan batu.

Parik menjadi jejak tata ruang sebuah Huta. Harbangan menjadi pintu masuk. Sopo menyimpan cerita kehidupan sosial masyarakat. Rumah Bolon dan lesung batu menjadi peninggalan yang masih dapat dilihat secara langsung.

Semua itu merupakan bagian dari cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Keterangan mengenai asal-usul Huta, fungsi sejumlah bangunan dan cerita yang berkembang di lingkungan keturunan Sihotang dalam tulisan ini berdasarkan penuturan Berman Sihotang serta hasil pengamatan langsung di lokasi.

Penelusuran lebih lanjut dari pihak keluarga, tokoh adat maupun sumber sejarah lainnya tetap diperlukan untuk melengkapi catatan mengenai sejarah Huta Sosor Silangit.

Namun, terlepas dari kemungkinan adanya perbedaan penafsiran atau versi sejarah lainnya, peninggalan yang masih bertahan menunjukkan adanya jejak kehidupan masa lalu yang hingga kini masih dapat dilihat secara langsung.

Bagi Berman dan keturunan yang masih peduli, Huta tersebut bukan sekadar tempat tinggal.

Ia adalah warisan keluarga.

Di tengah perubahan zaman, ketika bangunan tua mulai lapuk dan generasi mulai berpencar, yang terancam hilang bukan hanya batu, kayu dan bangunan.

Tetapi juga ingatan tentang siapa yang pernah tinggal, bagaimana masyarakat dahulu menjalani kehidupan, serta bagaimana sebuah Huta dibangun dan dipertahankan.

Kini, Huta Sosor Silangit masih berdiri di tengah perkembangan kawasan sekitarnya.

Di balik rumpun bambu, benteng batu itu masih menjadi saksi.

Ia mungkin mulai dimakan usia, tetapi belum menyerah pada zaman.

Selama masih ada keturunan yang bersedia tinggal, menjaga dan menceritakan kembali sejarahnya, Huta Sosor Silangit masih memiliki kesempatan untuk menolak punah.

(Samsir Sitanggang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *