SAMOSIR | deliksumut.com — Hamparan tanaman bawang yang menghijau menjadi pemandangan menarik bagi warga yang melintas menuju Kantor DPRD Kabupaten Samosir.
Persis di samping kawasan perkantoran tersebut, seorang petani memanfaatkan lahan sekitar 7 rante untuk membudidayakan bawang batu. Tanaman itu kini tumbuh menghijau di tengah kawasan pemerintahan yang juga masih dimanfaatkan masyarakat untuk aktivitas pertanian.
Petani tersebut adalah Pak Rika Sihaloho.
Bagi Pak Rika, bertani bukan sekadar memanfaatkan lahan. Ada modal, tenaga, perawatan hingga keberanian mengambil risiko yang harus dipertaruhkan sebelum tanaman memasuki masa panen.
Saat berbincang dengan Wartawan deliksumut.com, Senin (21/9/2026), Pak Rika menceritakan bahwa tanaman yang kini memenuhi lahannya merupakan jenis bawang batu. Bibit tersebut dibeli dari Kabupaten Simalungun dengan harga sekitar Rp33 ribu per kilogram.
Untuk lahan sekitar 7 rante, dibutuhkan sekitar 400 kilogram bibit. Modal yang dikeluarkan mencapai kisaran Rp25 juta, belum termasuk tenaga dan biaya perawatan selama proses budidaya.
“Bibit saya beli dari Simalungun. Untuk 7 rante sekitar 400 kilogram,” ujar Pak Rika.
Selain bibit, kebutuhan produksi lainnya juga cukup besar. Pak Rika menggunakan tujuh gulungan mulsa dengan harga sekitar Rp320 ribu per gulungan. Sementara kebutuhan kompos mencapai 16 sak dengan harga sekitar Rp90 ribu per sak.
Menurut Pak Rika, mulsa yang kondisinya masih baik masih dapat digunakan kembali hingga dua musim tanam. Namun, ketersediaan kompos menjadi salah satu kendala yang dihadapinya.
“Kompos susah di Samosir. Dari Pakkam harga Rp18 ribu sampai di Samosir,” katanya.
Untuk menghemat penggunaan kompos, Pak Rika mencampurnya dengan sekam padi dan EM4.
Bertani Mandiri, Tak Memilih Masuk Kelompok
Menariknya, Pak Rika memilih menjalankan usaha taninya secara mandiri dan tidak bergabung dalam kelompok tani.
Menurutnya, bergabung dalam kelompok terkadang memiliki tantangan tersendiri, terutama menyangkut kebutuhan pupuk serta keseragaman keputusan dalam menentukan jenis tanaman.
“Kenapa tidak masuk kelompok? Rumit menurut saya. Masalah pupuk juga rumit. Kalau masuk kelompok tidak bisa satu ide. Harapannya satu ide lah semua, kalau nanam bawang bawang semua,” ujarnya.
Selama bertani, Pak Rika tidak hanya menanam bawang. Tomat dan cabai merah juga pernah dibudidayakannya.
Kini, di sebagian lahan yang masih kosong, Pak Rika mencoba menanam bawang putih setelah mendapatkan bibit sebanyak 5 kilogram dari seorang teman.
Sementara di bagian bawah lahan, Pak Rika juga menanam bawang tajuk sebanyak sekitar 40 kilogram bibit. Tanaman tersebut diperkirakan sekitar dua minggu lagi memasuki masa panen.
*Musim Kemarau, Air Jadi Tantangan*
Budidaya bawang bukan sekadar menanam dan menunggu panen. Perawatan harus dilakukan secara rutin, terutama ketika musim kemarau.
Pak Rika mengatakan penyemprotan harus dilakukan secara rutin, baik pada musim hujan maupun kemarau. Bahkan ketika hujan turun pada siang hari, tanaman kembali harus mendapat perhatian untuk mengantisipasi serangan penyakit.
Untuk pengendalian ulat, penyemprotan menurutnya lebih baik dilakukan pada malam hari.
“Kalau musim kemarau, selama satu bulan kurang lebih satu juta, belum lagi tenaga sehari-harinya,” katanya.
Ketersediaan air menjadi salah satu kendala utama dalam budidaya bawang. Namun, karena terdapat jaringan air PAM di sekitar lokasi, kebutuhan penyiraman selama musim kemarau masih dapat diatasi dengan memanfaatkan air tersebut.
Pak Rika memperkirakan bawang batu yang kini ditanam paling lambat sekitar satu bulan lagi memasuki masa panen.
Saat panen tiba, pedagang atau tokeh biasanya datang langsung ke lokasi.
Namun, berapa hasil yang akan diperoleh dari lahan 7 rante tersebut belum dapat dipastikan. Menurut Pak Rika, hasil panen sangat bergantung pada berat umbi yang dihasilkan.
*Kemarau Menekan Pertumbuhan*
Tanaman bawang yang kini terlihat menghijau belum sepenuhnya menunjukkan pertumbuhan maksimal.
Pak Rika menilai kondisi tanaman kali ini kurang baik karena ditanam pada Agustus, ketika hujan hampir tidak turun selama sekitar satu bulan.
“Kalau yang ini sekarang kurang bagus karena musim kemarau. Kalau musim hujan bisa lebih bagus dari sini, karena waktu nanam bulan 8, satu bulan tidak pernah datang hujan,” ungkapnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat Pak Rika berhenti bertani.
Pengalaman bertahun-tahun menanam bawang membuat Pak Rika memahami bahwa harga komoditas tersebut juga dapat berubah-ubah. Ia mengaku pernah mendapatkan harga bawang hingga Rp40 ribu per kilogram.
“Mulai dari doli-doli sudah bertani bawang,” katanya.
Dari Lahan, Mencoba Beragam Tanaman
Bagi Pak Rika, lahan di sekitar kawasan perkantoran tersebut menjadi ruang untuk mencoba berbagai jenis tanaman.
Selain bawang batu dan bawang tajuk, ia kini mencoba bawang putih. Bibit sebanyak 5 kilogram pemberian seorang teman menjadi modal awal untuk melihat apakah tanaman tersebut dapat tumbuh baik di lahan Samosir.
Di tengah keterbatasan biaya produksi, air jika musim kemarau dan ketersediaan kompos, Pak Rika memilih terus mencoba.
Ia mengaku pihak Dinas Pertanian beberapa kali datang melihat kondisi tanaman di lahannya. Namun, menurutnya, kunjungan tersebut lebih banyak sebatas melihat kondisi pertanian.
Sementara itu, seorang pegawai yang bekerja di lingkungan Pemerintah Kabupaten Samosir, bermarga Tambunan, disebut cukup sering berdiskusi dan berbagi pengalaman dengannya mengenai pertanian.
Salah satu sarannya adalah agar rumput yang tumbuh di lahan tidak langsung dibasmi menggunakan herbisida, tetapi dibiarkan sehingga dapat menjadi bahan organik dan membantu menjadi kompos alami.
“Disarankan rumput-rumput di ladang jangan dirondap, supaya jadi kompos,” kata Pak Rika.
Di lahan yang persis berada di samping Kantor DPRD Samosir itu, Pak Rika kini menunggu satu hal: panen.
Hasil panen nantinya akan menjadi jawaban apakah modal sekitar Rp25 juta yang dikeluarkan untuk membudidayakan bawang batu di lahan 7 rante tersebut mampu memberikan keuntungan.
Sambil menunggu masa panen, tanaman bawang terus dirawat setiap hari.
Dari lahan sederhana di tengah kawasan pemerintahan, Pak Rika menunjukkan bahwa pertanian masyarakat Samosir tetap bergerak—dengan modal sendiri, air yang terbatas, dan harapan dari setiap umbi yang tumbuh di tanah.
(Samsir Sitanggang)
