deliksumut.com | Samosir,– Yayasan Pusuk Buhit secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) kepanitiaan Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan Tebar Sejuta Bibit Ikan di Kawasan Danau Toba.
Kepanitiaan tersebut berjumlah sekitar 50 orang berasal dari berbagai daerah, mulai dari tujuh kabupaten di Kawasan Danau Toba (Samosir, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, Simalungun) serta Medan, Jakarta, Bali, Jawa Barat hingga perwakilan dari luar negeri.
Penerimaan SK diwakili Alex A Simatupang yang dipercaya sebagai Project Director Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan Tebar Sejuta Bibit Ikan di Kawasan Danau Toba.
Penyerahan SK dilakukan langsung oleh Ketua dan Sekeretaris Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho bersama Uji Sitanggang, di Kantor Sekretariat Yayasan Pusuk Buhit yang berlokasi di Lumban Butar II, Kelurahan Siogung-ogung, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Selasa (10/03/2026).
Gerakan lingkungan tersebut merupakan inisiasi Efendy Naibaho yang bertujuan menjaga kelestarian Kawasan Danau Toba melalui aksi nyata berupa penanaman pohon dan penebaran bibit ikan, khususnya jenis pora-pora, di wilayah perairan dan daratan di sekitar Kawasan Danau Toba.
Ketua Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho menjelaskan bahwa program ini direncanakan berlangsung sepanjang tahun 2026 dan akan dilaksanakan di tujuh kabupaten Kawasan Danau Toba.
Menurutnya, gerakan tersebut akan melibatkan berbagai elemen masyarakat melalui jaringan sosial berbasis komunitas dan media. Seluruh kegiatan dirancang berjalan secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM) dengan tujuan utama menjaga kelestarian lingkungan Danau Toba, baik di wilayah perairan maupun daratan di sekelilingnya.
“Gerakan ini mengusung tagline #SaveTheTao sebagai simbol semangat bersama untuk menyelamatkan Danau Toba. Berbagai elemen masyarakat yang sejak lama mendambakan Danau Toba kembali ke habitat alaminya kini mulai bersatu dan berkonsolidasi untuk bergerak bersama,” ujar Efendy.
Ia menambahkan, hingga saat ini gerakan tersebut telah mendapat dukungan dari sedikitnya 13 komunitas, aliansi elemen masyarakat, serta sejumlah tokoh dan individu yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.
Efendy berharap seluruh panitia dan relawan dapat bekerja secara maksimal melihat besarnya potensi Kawasan Danau Toba yang perlu dijaga bersama.
“Karena kalau bukan kita yang menjaga kelestarian Danau Toba dan kawasan di tujuh kabupaten sekelilingnya, lalu siapa lagi,” katanya.
Rencananya, gerakan ini akan diawali dengan soft launching pada 10 April 2026 di kawasan Pusuk Buhit, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pohon dan penebaran bibit ikan secara serentak pada 5 Juni 2026 di tujuh kabupaten Kawasan Danau Toba.
Khusus di kawasan Pusuk Buhit, pihak yayasan merencanakan penanaman beberapa jenis pohon utama seperti jabi-jabi, beringin, dan hariara. Selain itu, juga akan ditanam berbagai tanaman yang memiliki manfaat obat-obatan seperti jeruk purut, andaliman, sangge-sangge, sanduduk, serta sejumlah tanaman lokal lainnya.
Yayasan Pusuk Buhit berharap gerakan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, serta pemerintah daerah di Kawasan Danau Toba.
Project Director Gerakan Menanam Sejuta Pohon dan Tebar Sejuta Bibit Ikan, Alex A Simatupang yang akrab disapa Mr. Lex, mengatakan bahwa gerakan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang saat ini semakin memprihatinkan.
Menurutnya, dunia saat ini tidak lagi hanya menghadapi fenomena global warning, tetapi telah memasuki fase global boiling, yakni kondisi meningkatnya suhu bumi secara ekstrem akibat kerusakan lingkungan yang semakin masif.
“Penggundulan hutan yang terjadi secara besar-besaran telah memicu berbagai bencana ekologis. Bahkan pasca bencana di Kawasan Tapanuli Raya, hati kami sebagai aktivis lingkungan terpanggil untuk ikut merawat kehidupan melalui penanaman pohon,” ujar Alex.
Ia menjelaskan, pohon memiliki peran penting bagi kelangsungan ekosistem. Selain menjadi sumber air, akar pohon mampu menahan banjir dan longsor, sementara daun pohon menghasilkan oksigen yang sangat dibutuhkan bagi kehidupan manusia.
“Dari pohon lahir kehidupan. Karena itu gerakan menanam pohon ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan demi menjaga masa depan lingkungan Danau Toba,” pungkasnya. (Sam86)
