Daerah  

dr. Djasamen Saragih, Putra Pertama Simalungun Bergelar Dokter Kini Makamnya Dipugar dan Diresmikan

Simalungun | DelikSumut – Suasana berlangsung khidmat dan penuh penghormatan saat Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih, meresmikan pemugaran makam dr. Djasamen Saragih, dokter pertama asal Simalungun, yang berlokasi di Nagori Aman Raya, Kelurahan Pematang Raya, Kecamatan Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Selasa (4/8/2026).

Peresmian diawali dengan penyambutan adat Simalungun yang sakral, menyambut kedatangan Bupati Simalungun didampingi Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, unsur Forkopimda, jajaran pimpinan perangkat daerah Kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar, serta para tokoh adat, cendekiawan, keluarga besar almarhum, dan perwakilan masyarakat.

Usai prosesi adat, rombongan melanjutkan ziarah ke makam, dan berdoa bersama, sebelum Bupati menandatangani prasasti sebagai tanda makam telah resmi dipugar dan dibuka untuk umum.

Mewakili keluarga besar dr Djasamen Saragih, Patra Saragih menceritakan bahwa dr. Djasamen Saragih adalah putra pertama Simalungun yang berhasil meraih gelar kedokteran pada tahun 1930-an, masa ketika akses pendidikan tinggi sangat terbatas, terutama bagi putra daerah.

“Perjuangan beliau menjadi seorang dokter pada masa itu bukanlah hal yang mudah. Sebagian besar keluarga kini berdomisili di Jakarta, namun kami berjanji tetap menjaga dan merawat makam ini sebagai penghormatan abadi,” ujarnya dengan haru.

Ketua Umum Pemangku Adat dan Cendekiawan Simalungun (PACS), dr. Sarmedi Purba, menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan. Sosok dr. Djasamen Saragih adalah bukti keberanian dan ketekunan luar biasa. Namanya kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di Pematangsiantar, menjadi bukti bahwa jasa dan pengabdiannya tetap hidup dan dirasakan hingga kini.

Wakil Ketua DPRD Simalungun, Jepra Manurung, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada keluarga besar almarhum yang tetap menjaga dan merawat makam sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.

“Perjuangan dr. Djasamen Saragih diharapkan menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus berjuang meraih cita-cita. Kami juga mengapresiasi keluarga besar yang tetap menjaga warisan sejarah ini sehingga nilai-nilai perjuangan beliau tetap hidup,” ujarnya.

Wali Kota Pematangsiantar, Wesly Silalahi, yang turut hadir dalam acara itu menyampaikan bahwa peresmian ini bukan sekadar seremonial, melainkan momentum menghidupkan kembali nilai-nilai luhur: perjuangan, keteladanan, dan pengabdian.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendahulunya, menjaga jejak sejarahnya, dan mewariskan nilai-nilai mulia kepada generasi penerus,” ucapnya.

Sementara itu, Bupati Simalungun dalam sambutannya menyampaikan makna mendalam dari pemugaran makam ini. Jika Pemerintah Kota Pematangsiantar mengabadikan namanya di rumah sakit, maka keluarga dan lembaga adat menghormatinya dengan merawat tempat peristirahatan terakhirnya, sebuah kolaborasi yang indah dan patut dicontoh.

Bupati menegaskan tiga nilai utama yang diwariskan dr. Djasamen Saragih: keberanian menjadi yang pertama, semangat mengabdi kepada kemanusiaan tanpa membedakan suku dan agama, serta tidak pernah melupakan asal-usul meski telah meraih kesuksesan. Nilai-nilai itu sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Simalungun, Habonaron Do Bona.

Bupati berharap makam ini tidak hanya menjadi tempat ziarah keluarga, melainkan berkembang menjadi destinasi wisata sejarah dan pendidikan. Bupati meminta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Dinas Pendidikan memasukkan kisah perjuangan dr. Djasamen Saragih ke dalam muatan lokal sejarah di sekolah-sekolah.

Para Pangulu dan guru di Kecamatan Raya pun diharapkan membawa anak-anak berkunjung ke makam ini, agar mereka tahu bahwa dari Kabupaten Simalungun ini pernah lahir seorang putra yang namanya harum sepanjang masa.

Dengan penuh khidmat, Bupati pun resmi menyatakan: “Makam Keluarga Almarhum dr. Djasamen Saragih di Nagori Aman Raya, secara resmi saya nyatakan telah diresmikan.”

Peresmian ini menjadi simbol kuat, bahwa warisan sejarah, budaya, dan semangat pengabdian para tokoh pendahulu harus terus dijaga, diwariskan, dan dijadikan fondasi membangun Simalungun yang maju, berbudaya, dan berakhlak mulia.(PN)

Exit mobile version