H+7 Korban Kebakaran Dosroha Simanindo Terima Bantuan, Pembangunan Tunggu Biaya Cukup.

deliksumut.com | Samosir —Memasuki hari ketujuh pasca kebakaran yang terjadi di Huta Lumban Rango, Desa Dosroha, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, puing-puing rumah yang hangus terbakar masih tampak menumpuk di lokasi kejadian. Musibah yang menghanguskan tiga unit rumah itu menyisakan duka mendalam bagi para korban, yakni keluarga Kardimen Manik, Peran Simanihuruk, dan Lince Sinaga.

Keluarga Kardimen Manik bersama istrinya Roslinda Sijabat saat ini masih menanggung empat anak yang menempuh pendidikan, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Sementara itu, Peran Simanihuruk diketahui berprofesi sebagai dosen di Kota Medan. Adapun Lince Sinaga tidak lagi memiliki tanggungan anak yang masih bersekolah.

Meski memiliki kondisi keluarga yang berbeda-beda, ketiga korban menyimpan harapan yang sama, yakni agar rumah yang hangus terbakar dapat segera dibangun kembali sehingga mereka dapat melanjutkan kehidupan seperti sediakala.

Di tenda pengungsian, Kamis (7/5/2026), Roslinda Sijabat, istri dari Kardimen Manik, kepada awak media deliksumut.com menceritakan berbagai harta benda yang ikut musnah dilalap api. Selain rumah beserta seluruh isinya, sepeda motor yang biasa digunakan anak laki-lakinya untuk berangkat sekolah turut terbakar. Tidak hanya itu, mesin sinso serta mesin penggiling kopi yang selama ini digunakan untuk mengolah hasil pertanian dari ladang juga ikut hangus.

Roslinda juga mengungkapkan bahwa sejumlah dokumen penting turut terbakar, termasuk Akta Notaris Kelompok Tani yang dipimpin suaminya sebagai ketua kelompok tani di desa tersebut.

“Harapan kami untuk kedepan semoga ada saudara-saudara kita yang berbaik hati yang sukarela membantu kami supaya bisa kami mendirikan rumah kembali. Harapan kami janganlah kami kembali menumpang, yang sudah punya rumah sendiri jadi menumpang kami merasa sedih. Kami berharap belas kasihan dari saudara-saudara kita yang sudah diberkati Tuhan maulah berbagi sama kita, itulah harapan kami,” ujar Roslinda dengan mata berkaca-kaca.

Terkait bantuan yang telah diterima, Roslinda menyampaikan rasa syukur atas perhatian pemerintah dan berbagai pihak yang telah membantu para korban kebakaran.

“Yang sudah kami terima yang tadilah dari Dinas Pendidikan, terus kemarin dari Pemkab serta jajarannya sudah diserahkan sama kami sebesar Rp12 juta, itulah yang kami titip sama pemerintah desa. Itu nanti kalau kami bisa bangun rumah kembali disitu kami minta, jadi disimpan dulu. Kalau itu kami pergunakan kan belum mencukupi bapak,” katanya.

Selain bantuan uang tunai, para korban juga menerima bantuan bahan material bangunan.

“Terus ada lagi bantuan sama kami bertiga masing-masing budget Rp8 juta tapi berupa bahan material,” jelasnya.

Saat ditanya mengenai realisasi bantuan material tersebut, Roslinda menjelaskan bahwa bantuan akan diberikan setelah para korban mempersiapkan lokasi pembangunan rumah.

“Sudah, sudah itu, dengan syarat disitu nanti kami sudah mempersiapkan tapaknya kami kabarin sama mereka. Tidak memberikan secara tunai, disitu kami mau membangun disitu mereka kasih,” ungkapnya.

Meski bantuan mulai berdatangan, keluarga ini mengaku belum dapat memastikan kapan pembangunan rumah akan dimulai karena keterbatasan biaya.

“Dipikir-pikir dulu lah pak, sejauh ini belum bisa kita tentukan, kan membangun ini biayanya besar,” katanya lirih.

Di tengah cobaan berat tersebut, Roslinda tetap berusaha kuat demi masa depan keempat anaknya yang masih menempuh pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Anak pertamanya kini tengah menjalani semester dua di jurusan Psikologi dengan biaya kuliah sekitar Rp14 juta per tahun, belum termasuk biaya kos dan kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kita tetap berharap kepada Tuhan, kita yakin pasti ada jalan untuk mereka. Yang penting mereka semangat. Saya tidak bisa bilang berhenti dulu karena kita tidak tau seberapa besar kasih Tuhan sama kita. Dijalani ajalah, yang penting semangat, berdoa semoga Tuhan memberikan jalan, memberikan rejeki, sehat-sehat, intinya semangatlah kami orang tua mendukung,” tutur Roslinda penuh harap.

Di akhir perbincangan, Roslinda menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Samosir beserta seluruh jajaran yang telah menunjukkan kepedulian terhadap para korban kebakaran.

“Terimakasih untuk Pemerintah Kabupaten Samosir, kami tidak menyangka telah sebesar itu kasih bapak kepada kami. Ternyata Pemerintah Kabupaten Samosir berusaha bermacam cara dibuat demi mengumpulkan dana untuk membantu kami yang kena musibah. Kami mengucapkan terimakasih banyak untuk Pemkab Samosir serta jajarannya semua,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Dosroha, Agustinus Sijabat, saat dikonfirmasi kembali di lokasi kejadian pada Kamis (7/5/2026), menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Samosir bersama sejumlah OPD telah hadir dan memberikan bantuan sejak awal musibah terjadi.

“Yang hadir ke desa ini Pemerintah Kabupaten memang sudah hadir di kejadian kebakaran ini, salah satunya itu Dinas Sosial, Badan Penanggulangan Bencana, Dinas Pendidikan dan juga bersama OPD lainnya,” ujar Agustinus.

Menurutnya, kehadiran pemerintah daerah sangat membantu meringankan beban para korban, baik melalui bantuan uang tunai, kebutuhan pokok, maupun stimulan pembangunan rumah.

“Dengan kehadiran Pemerintah Kabupaten Samosir memang keluarga yang terdampak bencana sudah sangat terbantu dalam hal beban yang mereka terima. Seperti yang kita lihat tadi dari Dinas Pendidikan setiap keluarga menerima uang tunai dan juga dari OPD-OPD yang disampaikan pada tanggal 5 itu menerima santunan tunai per keluarga sebesar Rp12.040.000, di luar dari kebutuhan primer dan juga dari penanggulangan bencana sebagai stimulan untuk pembangunan rumah sebesar Rp8 juta berupa material. Dari Dinas Sosial juga memberikan kebutuhan-kebutuhan primer kepada keluarga,” jelasnya.

Agustinus juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Desa Dosroha telah membentuk tim penggalangan dana guna membantu para korban kebakaran. Dana yang terkumpul dijadwalkan akan diserahkan kepada keluarga terdampak pada Jumat mendatang.

“Untuk membantu korban itu kita buatkan tim penggalangan dana yang kita jadwalkan hari Jumat kita serahkan kepada keluarga yang terdampak,” katanya.

Ia menyebutkan, hasil penggalangan dana yang telah terkumpul, termasuk bantuan yang disalurkan Wakil Bupati Samosir, mencapai sekitar Rp40 juta.

“Untuk saat ini ditambah pemberian dari Pak Wakil itu sudah terkumpul kurang lebih Rp40 juta,” tambahnya.

Namun demikian, di tengah derasnya perhatian dari pemerintah daerah dan masyarakat, hingga kini belum terlihat adanya kehadiran maupun bantuan dari kalangan pelaku usaha perhotelan di wilayah Kecamatan Simanindo yang selama ini dikenal sebagai kawasan wisata dengan banyak hotel, termasuk hotel berbintang.

Saat ditanya apakah ada pihak hotel yang datang membantu korban, Agustinus mengaku hingga kini belum ada.

“Belum, memang Pemerintah Desa belum pernah menginformasikan hal ini ke pihak-pihak hotel, tapi untuk media sosial dan pemberitaan mungkin mereka sudah tahu,” ungkap Kepala Desa.

Terkait bantuan material, pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah material awal seperti enam sak semen dan enam lembar seng telah tersedia. Sementara itu, puing-puing rumah yang hangus terbakar masih tampak menumpuk di sekitar lokasi kejadian.

Musibah kebakaran di Huta Lumban Rango bukan sekadar kehilangan bangunan fisik, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup dan masa depan keluarga korban, terutama anak-anak yang masih menempuh pendidikan. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi, kehadiran pemerintah daerah bersama sejumlah OPD patut diapresiasi karena bergerak cepat memberikan bantuan moril maupun materiil.

Di sisi lain, masyarakat juga berharap semakin banyak pihak menunjukkan kepedulian sosial, termasuk sektor swasta dan para pemangku kepentingan lainnya. Kecamatan Simanindo sebagai salah satu kawasan wisata andalan di Kabupaten Samosir memiliki banyak elemen usaha yang tumbuh bersama geliat ekonomi daerah. Dalam situasi kemanusiaan seperti ini, perhatian dan solidaritas sosial dari berbagai kalangan diharapkan dapat menjadi kekuatan tambahan bagi para korban untuk bangkit kembali.

Selain itu, masyarakat juga menaruh harapan agar seluruh unsur pemerintahan serta para wakil rakyat terus hadir di tengah warga yang sedang mengalami musibah. Kehadiran langsung di lokasi tidak hanya bermakna bantuan materi, tetapi juga menjadi bentuk empati, dukungan moral, serta komitmen untuk memperjuangkan kebutuhan masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit. (Sam86)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *