deliksumut.com | Samosir — Lonjakan wisatawan selama libur Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2026 seharusnya menjadi momentum emas bagi pelaku UMKM di kawasan foodcourt Water Front City Pangururan. Namun fakta di lapangan justru berbanding terbalik, salah satu kios tampak tutup, diduga kerap dijadikan tempat beristirahat oleh seorang wanita yang disebut mengalami gangguan jiwa (ODGJ).
Pantauan di lokasi menunjukkan salah satu stand ditutup menggunakan tirai biru, sementara di dalamnya masih tersimpan berbagai produk UMKM khas Samosir yang seharusnya bisa menarik minat wisatawan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius tentang pengelolaan dan pengawasan kawasan wisata unggulan tersebut.
Ironisnya, di tengah ramainya kunjungan, kios yang mestinya menjadi etalase ekonomi lokal justru tidak difungsikan. Situasi semakin memprihatinkan ketika area tersebut diduga dimanfaatkan sebagai tempat tidur oleh pihak yang tidak berkepentingan, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pengunjung maupun pelaku usaha lain.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyayangkan kondisi tersebut. Ia menilai ada pembiaran yang merugikan masyarakat.
“Sayang sekali stand ini tutup, padahal pengunjung ramai. Kalau yang menyewa tidak dipakai lagi, sebaiknya diberikan kepada masyarakat lain. Produk UMKM di dalam itu justru yang dicari wisatawan,” ujarnya, Minggu (29/03/2026).
Ia juga menyebut, kios tersebut sudah tidak beroperasi sejak perayaan HUT Kabupaten Samosir ke-22, tanpa kejelasan pemanfaatan hingga kini.
Sorotan tajam pun mengarah kepada pihak pengelola dan instansi terkait yang dinilai belum optimal menjaga fungsi kawasan strategis tersebut. Pertanyaan mendasar muncul: bagaimana mungkin ruang ekonomi yang dibangun dengan anggaran publik justru terbengkalai saat momentum puncak kunjungan wisata?
Ketua Pengelola Water Front City, Rudi Siahaan, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp menjelaskan bahwa penutupan kios merupakan kebijakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag).
“Stand itu memang sudah ditutup oleh Dinas Perindag pak. Sedang proses pemindahan barang mereka. Kalau sudah kosong nanti akan kita kontrak kan kepada pihak lain. Sudah ada beberapa yg berminat mengajukan permohonan untuk mengelola nya.”Ujarnya
Terkait keberadaan wanita yang diduga ODGJ, Rudi mengakui kondisi tersebut memang terjadi dan telah beberapa kali ditangani secara persuasif.
“Br. Nadeak itu orang Rianiate. Tim kita selalu mengamankan ybs jika datang. Tetapi terkadang, ybs sadar juga. Pemilik kios juga terkadang memberi ybs makan. Sudah pernah kita kerja sama dengan Polres dan dinas kesehatan mengantar ybs kpd keluarganya, tetapi nggak di urus juga. Dilepaskan. Petugas keamanan kita kalau melihat ybs pasti di usir.”Jelasnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Samosir, Ferdinand Sitanggang, menyatakan kios tersebut dinilai tidak efektif sehingga akan diambil alih untuk penataan ulang.
“Kios UMKM dimaksud sudah tidak efektif dan akan diambil alih oleh Pihak Pengelola;” Ujarnya
Ia mengatakan kios tidak dikelola sebelum libur hari raya.
“Sebelum libur hari raya Nyepi dan Idul Fitri 2026. Pengangkutan barang² yg masih ada di dalam dijadwalkan dlm minggu ini. Ttg adanya orang lain yg tidak berkepentingan masuk ke dlm kios, saya baru dapat infonya. Tksh atas info ini utk kami konfirmasi dgn Pengelola dan pengamanan segera.”Tambahnya.
Saat ditanya mengenai penyebab ketidakefektifan kios UMKM, Ferdinand mengungkapkan bahwa minat pengunjung menjadi kendala utama.
“Pengunjung tidak terlalu melirik ke kios UMKM, pd umumnya pengunjung lebih memilih menikmati hiburan, kuliner dan panorama alam di area WF Pangururan.”katanya.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir, Tetty Naibaho, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang telah disampaikan terkait kondisi tersebut.
Padahal, klarifikasi dari instansi yang bertanggung jawab terhadap sektor pariwisata dinilai penting untuk menjawab kekhawatiran publik sekaligus menjaga citra destinasi unggulan Samosir di tengah tingginya kunjungan wisatawan.(Sam86)












