deliksumut.com | Pangururan,- Hari pertama Perayaan HUT ke-22 Kabupaten Samosir, Kamis (26/2/2026), berlangsung meriah di kawasan Segmen V Waterfront City Pangururan. Ribuan masyarakat dan tamu undangan memadati lokasi untuk menyaksikan rangkaian acara, termasuk penampilan memukau dari pelajar SMP Negeri 1 Pangururan yang menghadirkan ragam atraksi seni dan budaya sarat pesan moral.
Sejak awal acara, suasana sudah terasa semarak. Tepuk tangan dan sorak bangga warga mengiringi setiap penampilan siswa yang tampil penuh percaya diri di panggung terbuka. Momentum ini menjadi bukti semangat generasi muda dalam menyambut usia ke-22 Kabupaten Samosir.
Penampilan diawali dengan Tari Kreasi pembuka bertajuk “Bersukacita atas Hari Jadi Kabupaten Samosir”. Gerakan enerjik dan kekompakan para penari menggambarkan rasa syukur dan kebanggaan atas perjalanan panjang daerah yang dikenal sebagai titik nol peradaban Batak. Ekspresi ceria para siswa menjadi simbol harapan akan masa depan Samosir yang semakin maju.
Atraksi dilanjutkan dengan aransemen musik yang memadukan unsur tradisional dan sentuhan semangat generasi muda. Harmoni nada yang dimainkan menghadirkan suasana hangat dan mempererat rasa kebersamaan di tengah perayaan.
Penonton kembali terpukau saat teater pantomim dibawakan oleh Audry Sigalingging dan Gomgom Malau. Tanpa dialog, keduanya mampu menyampaikan kisah tentang kesetiaan kawan dan nilai kebersamaan melalui gerak tubuh dan ekspresi yang kuat, menyentuh hati para penonton.
Nuansa adat semakin kental lewat Tarian Kreasi Mangokkal Holi (Panakkok Saring-saring) yang merefleksikan penghormatan kepada orang tua dan leluhur. Dalam tradisi Batak, Mangokkal Holi merupakan bagian dari pesta adat tertinggi sebagai bentuk bakti, dengan memindahkan tulang-belulang leluhur ke tempat yang lebih layak serta mendirikan tugu sebagai simbol persatuan keturunan dalam ikatan Dalihan Natolu.
Suasana semakin khidmat saat ratusan siswa menampilkan seruling massal yang dipandu Kepala Sekolah Enny Juliana Pelita Naibaho bersama guru pelatih. Lagu “Oh Tano Batak”, “Sitara Tillo”, “Mars Kabupaten Samosir”, dan “Sinanggar Tulo” mengalun syahdu, menambah rasa bangga di tengah perayaan.
Ayudia Naibaho, siswi kelas VII, mengaku bahagia bisa terlibat dalam momen bersejarah tersebut.
“Seru dan bahagia bisa tampil di acara Hari Jadi Kabupaten Samosir. Kami latihan hanya tiga hari, tapi kami berusaha tampil maksimal untuk membanggakan sekolah,” ujarnya penuh semangat.
Guru pelatih Juniana Simbolon menjelaskan, persiapan dilakukan secara intensif selama tiga hari bersama kepala sekolah dan dua guru lainnya. Meski waktu terbatas, hasilnya mampu memukau ribuan pasang mata yang hadir.
Di antara penonton, para orang tua tampak haru menyaksikan penampilan anak-anak mereka.
“Kami sangat bangga anak kami bisa tampil di acara sebesar ini. Ini pengalaman berharga bagi mereka. Semoga anak-anak semakin percaya diri dan terus mencintai budaya Samosir,” ungkap salah seorang orang tua bermarga Sitanggang.
Sementara itu, pemerhati budaya Samosir, Sasnaek Naibaho, menyampaikan apresiasinya terhadap penampilan para pelajar.
“Sangat mengapresiasi penampilan anak-anak sekolah, siswa SMPN 1. Artinya secara tersirat mereka mampu menterjemahkan tema acara HUT ke-XXII Kabupaten Samosir ‘Samosir Rumah Kita’. Dalam filosofi Rumah Bolon, rumah adat Batak, bukkulan atau lekukan atap belakang rumah selalu dibuat lebih tinggi menekuk ke atas daripada lekukan yang di depan. Itu bermakna para nenek moyang terdahulu selalu berharap kelak seluruh anak-anaknya akan lebih tinggi derajat, ilmu, status sosial, dan kekayaannya,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi tarian kreasi Mangokkal Holi yang ditampilkan para siswa.
“Ulaon Patakkok Saring-saring adalah salah satu pesta adat tertinggi dalam adat Batak. Orang Batak mempercayai orangtua adalah Tuhan yang nyata di kehidupannya. Rasa hormat kepada orangtua serta leluhur, puncaknya adalah dengan menggali tulang-belulang yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun di dalam tanah untuk dipindahkan ke makam yang baru dan lebih layak. Keluarga yang diikat dalam Dalihan Natolu secara bergotong royong mendirikan tugu sebagai simbol persatuan keturunannya,” jelas Sasnaek.
Ia menegaskan, Samosir sebagai titik nol peradaban Batak sangat strategis menjadi pusat penggalian dan pelestarian adat dan budaya.
“Harapan kita kepada Pemerintah Kabupaten Samosir, merujuk pada filosofi Rumah Bolon tadi, konsep pembangunan harus tetap fokus pada peningkatan dalam bingkai kekeluargaan dengan semangat gotong royong. Rumah kita harus menjadi tempat teraman dan ternyaman untuk berteduh, berlindung, dan beristirahat guna memimpikan Samosir negeri yang lebih indah,” katanya.
Sasnaek juga menyampaikan pesan kepada para pelatih tari, guru, dan kepala sekolah agar terus konsisten mendidik dan memoles talenta siswa.
“Terus konsisten untuk tetap kompak mengajar dan mendidik serta memoles talenta-talenta para siswa di SMP Negeri 1. Semoga di bawah pimpinan Kepala Sekolah SMP 1, banyak lagi prestasi yang akan ditorehkan,” tutupnya.
(Samsir Sitanggang)
