Wisatawan Peduli Kebersihan dan Berbaur dengan Warga, Pesona Air Terjun Sitapigagan Samosir Kian Terasa

deliksumut.com | Samosir — Air Terjun Sitapigagan di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, menyimpan pesona alam yang masih asri dan alami.

Di tengah kondisi kunjungan wisata yang belum begitu ramai, justru muncul wajah lain pariwisata yang lebih berkualitas: wisatawan yang peduli kebersihan dan mampu berbaur dengan masyarakat setempat.

Menurut cerita warga, dahulu ketika akses jalan menuju lokasi masih rusak, tempat ini sempat sering dikunjungi wisatawan, bahkan dari Malaysia. Namun kini, setelah akses jalan sudah diaspal dan lebih baik, jumlah kunjungan wisatawan Malaysia justru tidak seramai sebelumnya.

Meski demikian, keindahan Air Terjun Sitapigagan tetap menjadi daya tarik tersendiri. Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalan setapak di tengah persawahan, melintasi rumah warga hingga rumah adat Batak, yang menghadirkan pengalaman alami dan autentik.

Berdasarkan keterangan petugas yang berjaga di pos retribusi, objek wisata alam Sitapigagan saat ini dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang berkolaborasi dengan Karang Taruna Desa Bonan Dolok. Pengelolaan ini juga terbilang masih baru, dimulai beberapa bulan terakhir setelah akses jalan menuju lokasi selesai diaspal.

Darma dan istrinya, Shifa, wisatawan asal Indrapura, menjadi salah satu pengunjung yang menikmati suasana tersebut pada Selasa (24/3/2026), saat libur Lebaran.

Usai menikmati air terjun, mereka singgah di sebuah warung sederhana beratap seng tanpa dinding yang berada di sekitar lokasi.

Di warung tersebut, Darma memesan segelas kopi hitam dan air mineral. Sambil menikmati kopi, mereka berbincang dengan pemilik warung dan keluarganya. Dari percakapan itu, mereka mengetahui bahwa kopi yang disajikan merupakan kopi asli Samosir, meski tidak diproduksi langsung di desa tersebut.

Tak hanya itu, mereka juga mendengar cerita tentang kesakralan Air Terjun Sitapigagan. Salah satu larangan yang masih dipercaya adalah pengunjung tidak diperkenankan memakai pakaian berwarna merah saat berada di lokasi.

“Memang di Samosir ini melimpah tempat-tempat wisata. Jadi saya mencari yang terbaru, istilahnya masih ‘perawan’. Saya tertarik ke air terjun di Bonan Dolok ini,” ujar Darma.

Ia mengaku terkesan dengan kondisi alam yang masih terjaga.

“Yang menarik, tempatnya masih asri, alami, bersih, tidak ada sampah, dan tidak banyak modifikasi. Jadi kita benar-benar menikmati alam yang masih murni,” tambahnya.

Shifa juga merasakan hal yang sama. Ia menilai suasana di lokasi tersebut masih sangat dijaga, baik dari segi kebersihan maupun nilai-nilai yang dipercayai masyarakat.

“Kalau di sini itu masih terasa terjaga. Kita tidak boleh sembarangan dan harus menjaga kebersihan,” ujarnya.

Ia bahkan mengungkapkan bahwa untuk menuju area tertentu di air terjun, pengunjung dianjurkan membuka alas kaki sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sakral yang ada.

“Makanya yang luar biasa itu, mau ke sana kita harus buka sandal. Sangking dijaganya kesakralannya,” kata Shifa.

Pasangan ini mengaku bukan pertama kali berkunjung ke Samosir. Dalam tiga tahun terakhir, mereka sudah delapan kali datang dan tidak pernah merasa bosan.

“Dalam tiga tahun itu kami bolak-balik sampai delapan kali, dan tidak pernah bosan. Bahkan ingin kembali lagi,” ungkap Shifa.

Darma menambahkan bahwa Samosir selalu menghadirkan hal baru setiap tahun.

“Masih banyak tempat wisata yang terus muncul. Di Samosir ini, di mana pun kita berdiri, selalu ada keindahan,” katanya.

Selain keindahan alam, keramahan masyarakat menjadi daya tarik yang sangat berkesan bagi mereka. Shifa bahkan mengaku sempat kesulitan mendapatkan penginapan, namun akhirnya dibantu oleh warga setempat.

“Masyarakatnya masya Allah baik sekali, ramah. Bahkan tadi malam kami tidak dapat penginapan, lalu minta tolong dan ditolong. Kami dipersilakan menginap. Kalau tidak, mungkin kami tidur di pinggir danau,” ujarnya dengan nada haru.

Darma menambahkan bahwa masyarakat Samosir memiliki tingkat kepedulian dan toleransi yang tinggi.
“Yang terpenting itu masyarakatnya sangat peduli dan toleransi. Isu-isu agama tidak terasa di sini,” katanya.

Keberadaan warung sederhana di sekitar lokasi juga menjadi nilai tambah tersendiri. Menurut mereka, konsep sederhana justru memberikan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.

“Secara konsep, kita jadi lebih menyatu dengan alam. Kalau warung mewah terlalu kontras, tapi kalau seperti ini kita merasa menyatu dengan warga,” ujar Darma, disambut tawa bahagia istrinya.

Di sisi lain, Shifa juga menyampaikan pesan penting kepada para wisatawan agar tetap menjaga kebersihan saat berkunjung ke Samosir.

“Tolonglah yang datang ke sini tetap menjaga kebersihan. Kalau membawa sampah, dibawa kembali dan dibuang ke tempatnya. Kami sendiri kalau melihat sampah, kami ambil supaya tetap terjaga keindahannya,” ujarnya.

Senada dengan itu, Darma menilai bahwa kesadaran menjaga kebersihan harus datang dari diri masing-masing.

“Kalau kita lihat secara luas, seperti di negara Swiss, alamnya bersih tanpa sampah. Kita di Indonesia sudah diberkahi Danau Toba, jadi harus kita jaga agar bisa dinikmati sampai ke anak cucu,” katanya.

Ia juga mengimbau wisatawan untuk membawa kantong plastik sendiri guna menampung sampah selama perjalanan hingga menemukan tempat pembuangan.

Air Terjun Sitapigagan tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata yang menyatu dengan budaya, nilai sakral, dan kehidupan masyarakat. Di tengah tantangan kunjungan wisata, pengelolaan yang mulai berjalan oleh BUMDes bersama Karang Taruna serta kehadiran wisatawan yang peduli dan menghargai lingkungan menjadi harapan baru bagi keberlanjutan pariwisata di Samosir.

(Samsir Sitanggang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *