SAMOSIR | deliksumut.com – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menggelar kegiatan Workshop Aktifasi Creative Hub bertajuk “Melihat, Mengenal, Bercerita: Seni Potret dan Narasi” bagi gabungan profesi di Kabupaten Samosir. Kegiatan berlangsung di Creative Hub Samosir, Desa Situngkir, Kecamatan Pangururan, Senin (19/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti 50 peserta dengan menghadirkan fotografer jurnalistik dan dokumenter Ferdy Siregar, Pendiri Komunitas Ngobrol Buku Eka Dalanta Tarigan, dan Dian Barasa Manik selaku moderator, serta perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Samosir Eben Ezer Pakpahan.
Direktur Penerbitan dan Fotografi Kementerian Ekonomi Kreatif, Iman Santoso, mengatakan Samosir memiliki kekayaan cerita yang bersumber dari budaya, sejarah, tradisi, dan keindahan alamnya. Potensi tersebut perlu diangkat melalui karya fotografi dan narasi yang kuat, jujur, serta mampu memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas.
“Di Samosir, segala sesuatu bercerita. Ulos bercerita, batu-batu di Huta Siallagan bercerita, pustaha bercerita, dan Danau Toba yang memeluk pulau ini sudah bercerita jauh sebelum kita lahir,” ujar Iman.
Menurutnya, kekayaan tersebut akan memiliki makna lebih luas apabila disampaikan melalui cerita yang mampu menggambarkan nilai budaya dan kehidupan masyarakat secara autentik.
Ia menegaskan, proses berkarya tidak cukup hanya dengan mengambil gambar atau mengumpulkan informasi. Seorang kreator perlu memahami objek yang diangkat, menghargai subjek yang diceritakan, serta menyampaikan kisah berdasarkan kenyataan.
“Melihat, bukan sekadar memotret. Potret yang kuat lahir dari mata yang mau berhenti dan memperhatikan. Mengenal, bukan sekadar bertanya nama. Mengenal berarti mendengarkan sebelum menekan tombol,” katanya.
Iman juga menekankan pentingnya menghubungkan fotografi dengan kemampuan menulis narasi. Menurutnya, foto dan tulisan dapat saling menguatkan dalam menyampaikan pesan kepada pembaca maupun penikmat karya visual.
“Foto yang tajam butuh kata yang jujur, dan kata yang jujur menjadi lebih kuat bersama foto yang tepat,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, Ferdy Siregar dihadirkan untuk berbagi pengalaman mengenai fotografi jurnalistik dan dokumenter, sedangkan Eka Dalanta Tarigan membagikan perspektif dari pengalamannya dalam membangun budaya literasi melalui Komunitas Ngobrol Buku sejak 2020.
Iman menilai kehadiran kedua narasumber tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperdalam keterampilan fotografi dan narasi, sekaligus memahami pentingnya kepekaan dalam mengangkat cerita dari lingkungan sekitar.
Ia juga menyinggung peran komunitas lokal dalam memperkenalkan kekayaan budaya Danau Toba, salah satunya melalui Komunitas Fotografer Danau Toba yang mengangkat warisan budaya melalui pameran bertajuk Toba Heritage.
Menurutnya, karya-karya yang lahir dari masyarakat setempat memiliki peran penting dalam memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya daerah kepada khalayak yang lebih luas.
“Toba paling indah ketika diceritakan oleh orang Toba sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, Iman menyebut Sumatera Utara, termasuk kawasan Danau Toba, memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Karena itu, penguatan kapasitas kreator daerah menjadi bagian penting dalam mendorong lahirnya karya-karya yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Ia menjelaskan, aktivasi Creative Hub di Samosir merupakan bagian dari program unggulan Kementerian Ekonomi Kreatif yang mencakup Aktivasi Desa Kreatif dan Creative by Indonesia.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka kesempatan bagi para kreator daerah agar dapat mengembangkan potensi dan memperluas jangkauan karyanya.
Iman menegaskan bahwa kreator berkualitas tidak hanya tumbuh di kota-kota besar, tetapi juga dapat lahir dari daerah dengan kekayaan budaya dan karakter yang kuat.
“Kreator hebat tidak hanya lahir di pusat, tetapi tumbuh dari daerah, termasuk dari sebuah pulau di tengah danau,” katanya.
Melalui workshop tersebut, peserta diharapkan dapat mengembangkan kemampuan dalam mengamati lingkungan, menggali cerita, serta menghasilkan karya fotografi dan narasi yang mampu merepresentasikan kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Samosir.
(Samsir Sitanggang)












