deliksumut.com | Samosir —
Kekhawatiran akan kembali terjadinya kemarau panjang menghantui masyarakat petani di Kabupaten Samosir pada awal tahun 2026. Trauma akibat kemarau berkepanjangan tahun lalu masih membekas, terlebih ancaman gagal panen kembali membayangi. Meski demikian, para petani tetap bertahan dan berupaya mengolah lahan demi menjaga sumber penghidupan mereka.
Pantauan di lapangan pada Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 10.00 WIB menunjukkan cuaca cerah berawan menyelimuti wilayah Pardugul. Sejumlah petani tampak sibuk di areal persawahan yang berada di belakang Puskesmas Buhit, tepat di sepanjang jalur Jalan Raya Pangururan–Simanindo.
Para petani terlihat membawa mesin pompa air beserta selang menggunakan sepeda motor menuju tepi Danau Toba. Air danau dipompa untuk mengairi sawah yang telah ditanami padi sejak awal Januari 2026. Upaya ini dilakukan karena sumber irigasi utama desa, Sungai Binaga Aron, telah mengering dan tidak lagi mengalir.
Kondisi persawahan pun mulai menunjukkan tanda-tanda kekeringan. Hingga akhir Januari 2026, hujan yang dinantikan belum juga turun. Situasi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan terulangnya kemarau panjang seperti yang terjadi pada tahun 2025 lalu.
Petani di Desa Pardugul dan Parlondut mengaku masih trauma dengan dampak kemarau sebelumnya. Salah seorang petani bermarga Sitanggang menuturkan kerugian besar yang dialaminya akibat tingginya biaya operasional pengairan.
“Tahun lalu kami rugi besar. Dari pengolahan lahan sampai panen semuanya mengandalkan air Danau Toba. Dalam seminggu bisa tiga kali mompa air. Sawah saya cuma dua rante, tapi biaya minyak bisa habis sekitar Rp500 ribu per minggu. Kalau dihitung sampai menjelang panen, bisa hampir Rp5 juta,” ungkapnya.
Tak hanya biaya yang membengkak, hasil panen juga menurun drastis. Dari yang biasanya memperoleh sekitar 14 karung padi ukuran 50 kilogram dari lahan dua rante, tahun lalu ia hanya mendapatkan enam karung.
“Rugi besar, tapi mau bagaimana lagi. Enam karung itu masih lebih baik daripada tidak ada hasil sama sekali. Kami yang dekat danau masih mending, saudara kami di daerah pegunungan banyak yang gagal panen jagung, bahkan harus membeli air untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan menipisnya stok padi di rumah tangga petani. “Biasanya masih ada cadangan padi untuk digiling, sekarang sudah habis akibat kemarau tahun lalu. Sampai akhir Januari ini hujan belum turun juga. Tapi kami tetap berusaha mengairi sawah dan berharap hujan segera datang,” tambahnya.
Untuk satu kali pemompaan air, petani harus mengeluarkan biaya antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung luas lahan. Tidak jarang, petani terpaksa meminjam uang kepada tetangga demi membeli bahan bakar mesin pompa.
“Sejak padi ditanam, saya sudah lima kali mompa air. Sekali mompa Rp100 ribu. Kalau tidak ada uang, ya pinjam dulu. saling pinjamlah kami , Yang penting padi disawah tetap hidup,” katanya.
Selain biaya pengairan, petani juga masih dibebani kebutuhan pupuk, pengamanan tanaman dari hama burung, serta biaya perawatan lainnya.
Diketahui, luas areal persawahan di Desa Pardugul diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare dan berada di pinggir jalan raya. Di Desa Pardugul dan Parlondut, pemerintah desa telah memasang pipa dan kran di sejumlah titik untuk memudahkan pengairan saat musim kemarau. Hamparan sawah ini juga kerap menjadi objek foto wisatawan karena panorama alamnya yang menghadap langsung ke Gunung Pusuk Buhit, gunung yang dikenal sakral di kawasan Danau Toba.
Menjelang libur Idul Fitri pada Maret mendatang, hamparan sawah hijau tersebut tidak hanya menjadi sumber pangan masyarakat, tetapi juga bagian dari daya tarik pariwisata Kabupaten Samosir.
Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi memberikan perhatian lebih terhadap sektor pertanian, khususnya melalui penguatan sistem irigasi, bantuan subsidi bahan bakar untuk pompa air, serta solusi jangka panjang dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Harapan kami sederhana, hujan segera turun dan sungai kembali mengalir. Kami ingin bertani dengan tenang, tanpa terus dibayangi ketakutan gagal panen seperti tahun lalu,” pungkas seorang petani.
Sebagai langkah antisipasi dampak kemarau, Pemerintah Kabupaten Samosir di bawah kepemimpinan Bupati Vandiko Timotius Gultom telah melakukan sejumlah upaya strategis. Salah satunya melalui pembangunan Peresmian Pompa Air Tenaga Surya (PATS) atau PTAS di kawasan pertanian Kecamatan Onan Runggu pada Senin (26/1/2026) lalu.
Hingga saat ini, dalam masa kepemimpinan Bupati Vandiko, tercatat sebanyak lima unit PTAS telah dibangun dan dimanfaatkan oleh masyarakat petani di beberapa wilayah Kabupaten Samosir. Keberadaan PTAS tersebut dinilai sangat membantu petani dalam menjaga ketersediaan air saat musim kemarau, sekaligus menekan biaya operasional yang sebelumnya bergantung pada mesin pompa berbahan bakar minyak.
Masyarakat berharap, pada masa akhir periode kepemimpinan saat ini, pembangunan PTAS dapat kembali dilanjutkan dan diperluas ke wilayah-wilayah lain yang kerap terdampak kemarau panjang. Petani menilai pengembangan sistem pengairan berbasis energi tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang yang sangat dibutuhkan guna menjaga ketahanan pangan sekaligus mendukung sektor pertanian di tengah ancaman perubahan iklim di kabupaten Samosir.
(Sam86)
