deliksumut.com | Samosir – Momen ini saya abadikan saat berkunjung ke rumah seorang ibu di Kecamatan Palipi, Kabupaten Samosir, pada 24 Oktober 2025 lalu, bersama rekan jurnalis Kirman Sidabutar.
Oktober 2026 ini, Hampir setahun setelah kunjungan tersebut, saya kembali membuka foto ini dan terdorong untuk menuliskan kisah dibalik rumah sederhana tersebut.
Awalnya kami datang untuk menindaklanjuti keluhan keluarga yang saya temui di salah satu instansi Pemkab Samosir. Keluhan tersebut akhirnya mendapat solusi.
Namun setelah melihat kembali foto ini, ada cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar persoalan rumah.
Di rumah sederhana ini, seorang ibu hidup bersama kenangan akan putri kebanggaannya. Seorang mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Katolik Santo Thomas Medan, angkatan 2022, yang sedang menempuh pendidikan di Kota Medan.
Harapan ibu itu sederhana: melihat anaknya menyelesaikan kuliah dan suatu hari pulang membawa kebahagiaan.
Harapan itu pupus pada 26 November 2024.
Menjelang Pilkada Serentak 2024, sang putri memutuskan pulang ke kampung halaman bersama rombongan mahasiswa asal Samosir. Ia ingin bertemu keluarga dan menggunakan hak pilihnya untuk Samosir, Negeri Indah Kepingan Surga.
Sebagai generasi muda yang kuliah di perantauan, ia ingin ikut menentukan masa depan tanah kelahirannya.
Namun perjalanan pulang itu berakhir duka.
Di jalur Medan-Berastagi, kawasan Sembahe-Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, rombongan tersebut menjadi korban bencana longsor. Lima warga Samosir meninggal dunia, empat di antaranya adalah mahasiswa.
Salah satunya adalah Mendiang Yohana Tuti L. Sitohang
Yohana akhirnya sampai di kampung halaman, namun kepulangannya membawa duka yang mendalam bagi keluarga dan bagi Samosir.
Rumah sederhana di Palipi yang dulu menyimpan harapan akan kelulusan, kini menyimpan doa-doa untuknya.
Mendiang Yohana dan kawan-kawan mungkin tidak sempat memberikan suara di bilik TPS. Namun niat tulus mereka untuk pulang telah meninggalkan pesan yang dalam: bahwa sejauh apapun di perantauan, hati generasi muda Samosir tetap untuk bonapasogit.
Musim hujan kembali datang. Tulisan ini bukan untuk membuka luka, melainkan untuk mengenang dan untuk mengingatkan kita semua agar jalur Medan-Berastagi semakin aman, sehingga tidak ada lagi keluarga yang harus menunggu kepulangan yang tak pernah tiba.
Keluarga di Palipi masih menyimpan harapan akan perhatian. Bukan soal materi, melainkan pengakuan bahwa anak-anak mereka pulang karena cinta pada Samosir.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.
Semoga Mendiang Yohana Tuti L. Sitohang dan para sahabatnya beristirahat dalam damai abadi di sisi Bapa di Surga. Requiescant in Pace.
Penulis: Samsir Sitanggang












