SAMOSIR | deliksumut.com — Label internasional pada spanduk Toba Caldera Culture Festival – Samosir International Choir Competition & Culture Festival yang digelar 24-27 September 2026 di Kabupaten Samosir, tak sejalan dengan penampakan di lapangan.
Opening ceremony yang digelar di Waterfront City Pangururan, Kamis (24/9/2026) sore, tampak sepi pengunjung.
Pantauan deliksumut.com, panitia mendirikan dua tenda terpisah. Satu tenda putih dengan tiang dibungkus kain hitam untuk tamu VIP, dan satu lagi tenda biru-putih untuk tamu undangan umum.
Di tenda VIP, deretan kursi plastik yang dibungkus kain putih ala kursi hajatan pesta di kampung dijejer di atas panggung beralas kain biru. Di atas meja kecil, hanya diletakkan ulos sebagai pemanis. Sementara di tenda satunya, kursi menggunakan sarung biru-putih.
Padahal, acara ini dihadiri sejumlah pejabat penting. Kedatangan Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kadis Budparekraf Provsu Terang Dewi Susantri Ujung, Bupati Samosir Vandiko T. Gultom yang diwakili Sekdakab Samosir Marudut Tua Sitinjak, Anggota DPRD Samosir Renaldi Naibaho dari Partai Gerindra, Forkopimda, pimpinan OPD Pemkab Samosir, serta dewan juri nasional dan internasional.
Kedatangan para tamu disambut tarian Tor-tor dengan alunan Gondang Batak. Para penari tampak maksimal menyambut dan mempersilakan tamu duduk, tetapi bangku yang disodorkan seperti bangku hajatan.
Dewan juri internasional yang hadir di antaranya Marcus Lee dari Singapura, Jurgis Cabulis dari Latvia, Susanna Saw dari Malaysia dan Prof. Mark Anthony Carpio dari Filipina.
Sementara dewan juri dari Indonesia di antaranya Roni Sugiarto, Mangara Simanjuntak dan Maria Calista. Acara tersebut turut dihadiri Presiden Direktur SICC Rios Sabar Andriano Tampubolon.
Maria Calista yang menjadi MC pada opening ceremony membuka acara dengan menyampaikan sambutan selamat datang kepada seluruh peserta dan tamu undangan.
“Selamat datang di Pulau Samosir, sebuah tanah yang tidak hanya dianugerahi keindahan alam di Danau Toba, tetapi juga memiliki kekayaan budaya, tradisi dan seni yang amat kuat.”
Ia menyampaikan, suara-suara yang berbeda akan berpadu menjadi satu gema Danau Toba. Berbagai latar belakang akan bertemu dalam satu panggung dan setiap nada yang dilantunkan akan menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang dirayakan bersama.
“Sejatinya choir bukan hanya tentang siapa yang memiliki suara yang paling kuat. Choir adalah tentang bagaimana setiap suara mampu mendengarkan, menyesuaikan dan menyatu dengan suara lainnya,” ujarnya.
“Semoga juga tidak hanya nada dan suara yang akan menyatu dalam acara Toba Caldera Culture Festival 2026 ini. Tapi melalui acara ini, hati kita pun boleh menyatu untuk Danau Toba,” sambungnya.
Ia kemudian menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, sponsor dan supporting partners yang telah memberikan dukungan dan menyukseskan kegiatan tersebut.
Panitia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Samosir dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan atas terselenggaranya acara.
Sejumlah sponsor yang disebut antara lain Bank Sumut, Bank BCA, Lortas Carlos dan Sanggam Beach.
“Baiklah seluruh tamu undangan dan peserta, semoga kita bisa menikmati acara ini. Tentunya juga para dewan juri yang sudah hadir dari berbagai daerah dan luar negeri. Enjoy the moment, enjoy in Indonesia. Semoga banyak yang bisa diambil dari Danau Toba, budayanya, indahnya alamnya dan juga makanannya,” katanya.
Art Director SICC Ondy Yohan Tambunan menjelaskan, kompetisi tahun ini diikuti sebanyak 33 peserta dengan 58 penampilan serta 70 vokal solo yang terbagi dalam beberapa kategori.
“Kami sungguh berharap dukungan dari seluruh masyarakat dan seluruh pemerintah untuk bisa mendukung acara ini sehingga dapat terselenggara dengan baik,” katanya.
Ondy juga mengatakan, opening ceremony di Waterfront City hanya dihadiri beberapa peserta, sementara peserta lainnya berada di Mariana Resort.
Bupati Samosir Vandiko T. Gultom melalui Sekdakab Samosir Marudut Tua Sitinjak menyampaikan bahwa Pemkab Samosir bangga karena dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan kompetisi paduan suara dan vokal solo tersebut.
Menurutnya, event tersebut mendukung visi dan misi Pemerintah Kabupaten Samosir, yakni Samosir Unggul, Inklusif dan Berkelanjutan, melalui misi memanfaatkan ekonomi kerakyatan yang berkualitas berbasis pertanian dan pariwisata yang didukung infrastruktur berkualitas.
“Pemerintah Kabupaten Samosir memberikan apresiasi dan menyambut baik kreativitas para anak-anak muda yang mampu menyatukan beragam suara dan budaya,” ujarnya.
Ia mengatakan, Pemkab Samosir mendukung agar event tersebut tetap dilaksanakan pada tahun depan dengan tema berbeda dan menjadi event tetap di Kabupaten Samosir.
“Karena pelaksanaan event yang keren dan berkualitas seperti ini tentunya akan membawa minat wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Samosir dan menambah length of stay di Samosir,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Utara yang diwakili Kadis Budparekraf Provsu Terang Dewi Susantri Ujung menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Toba Caldera Culture Festival 2026.
Terang Dewi menyampaikan salam hormat dari Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution yang sedianya berkeinginan hadir, namun karena adanya agenda kedinasan di Jakarta yang tidak dapat ditinggalkan, berhalangan hadir dan menugaskannya untuk mewakili.
Ia juga menyampaikan salam hangat kepada masyarakat Samosir dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menghadirkan festival tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Danau Toba kepada Indonesia dan dunia.
Menurutnya, Danau Toba bukan hanya bentang alam yang indah, tetapi merupakan rumah bagi warisan budaya yang hidup, tumbuh bersama masyarakat dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
“Di balik setiap alunan Gondang, setiap helai ulos, setiap tarian, musik, cerita rakyat hingga tradisi masyarakat Batak tersimpan identitas yang menjadi kekuatan Sumatera Utara,” katanya.
Ia mengatakan, penyelenggaraan Toba Caldera Culture Festival 2026 memiliki arti penting karena menjadi wadah untuk mempertemukan kreativitas, tradisi, pendidikan, pariwisata dan partisipasi masyarakat dalam satu panggung.
Tema “From Toba To The World”, katanya, mengandung harapan agar nilai-nilai budaya yang lahir dari kawasan Danau Toba mampu dikenal, diapresiasi dan menginspirasi masyarakat di berbagai belahan dunia.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga memandang pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan perkembangan ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat serta peningkatan kualitas destinasi wisata.
Ketika budaya dirawat dengan baik, menurutnya, masyarakat memperoleh ruang untuk berkarya, pelaku usaha lokal mendapat peluang berkembang dan generasi muda memiliki kebanggaan terhadap jati dirinya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Samosir, panitia penyelenggara, artistic director, perguruan tinggi, peserta serta seluruh pihak yang telah berkolaborasi menghadirkan festival tersebut.
Kehadiran penampilan paduan suara, keterlibatan universitas, penyematan ulos kepada dewan juri hingga berbagai rangkaian acara, menurutnya, menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi jembatan yang mempererat persaudaraan lintas daerah.
Usai penyampaian kata sambutan oleh Sekdakab Samosir Marudut Tua Sitinjak yang mewakili Bupati Samosir Vandiko T. Gultom dan Kadis Budparekraf Sumut Terang Dewi Susantri Ujung yang mewakili Gubernur Sumut, pemukulan tagading dilakukan bersama sebagai simbol dimulainya rangkaian festival yang memadukan seni, budaya, pariwisata dan kreativitas tersebut.
Namun, simbol dimulainya festival tersebut tidak diiringi kemeriahan di lapangan. Suasana terlihat sepi pengunjung, masyarakat samosir pengunjung yang tidak seberapa jumlahnya lebih banyak berdiri di pelataran depan tenda VIP dan umum, sementara peserta duduk ditribun dan deretan kursi hajatan di atas panggung banyak yang kosong.
Di panggung utama Waterfront City Pangururan, penampilan air mancur menari sebagai ikon pariwisata Samosir menjadi sajian khusus untuk menyambut dewan juri Samosir International Choir Competition (SICC) dari tingkat nasional dan mancanegara.
Suasana opening ceremony yang direkam wartawan deliksumut.com di lokasi dimulai sekitar pukul 17.46 WIB dan selesai sekitar pukul 18.40 WIB.
Sementara itu, para pelaku usaha yang berada di luar Food Court Waterfront City mengaku tidak merasakan dampak ekonomi dari pelaksanaan opening ceremony tersebut.
“Sepi hian ate acara on, anggo hatai event internasional,” ujar salah seorang pemilik warung di kawasan Waterfront City.
Artinya, suasana acara tersebut dinilai sangat sepi, terlebih kegiatan yang digelar membawa label event internasional.
Pihak panitia ketika dikonfirmasi deliksumut.com belum memberikan respons.
Pantauan di Waterfront City pada saat opening ceremony menunjukkan panggung utama masih menggunakan tenda terpal biru-putih dan kursi plastik yang dibungkus kain putih.
Kondisi tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah konsep tersebut memang merupakan konsep resmi untuk festival bertaraf internasional dan apakah panitia sudah melakukan sosialisasi secara maksimal kepada masyarakat Samosir sebelumnya.
Padahal, kegiatan tersebut diperkirakan menghadirkan lebih dari 2.000 peserta dan official.
(Samsir Sitanggang)












