SAMOSIR | deliksumut.com — Demi mendapatkan akses jalan yang layak, masyarakat Desa Sihusapi, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, terpaksa mengumpulkan uang dari kantong sendiri.
Bersama para perantau, masyarakat menghimpun sekitar Rp75 juta untuk membangun rabat beton pada ruas jalan provinsi yang menjadi akses penting masyarakat.
Mereka patungan bukan untuk membangun fasilitas pribadi, melainkan memperbaiki jalan yang digunakan setiap hari untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, ibadah dan mobilitas warga.
Kondisi tersebut menjadi ironi ketika pembangunan infrastruktur jalan di Kabupaten Samosir saat ini terus berjalan melalui sinergitas pemerintah daerah dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Salah satu contoh terbarunya adalah pembangunan ruas Simpang Gotting–Janji Raja dengan nilai kontrak sekitar Rp27,85 miliar, yang bersumber dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026.
Pertanyaannya kemudian mengarah kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution:
Kapan masyarakat Sihusapi mendapatkan perhatian yang sama?
Kisah warga Sihusapi mulai menjadi sorotan deliksumut.com setelah warga, Charles Simarmata, menyampaikan keluhan mengenai kondisi jalan kabupaten melalui media sosial.
Dalam unggahannya, Charles memperlihatkan bagaimana masyarakat bergotong royong memperbaiki jalan yang rusak di tanjakan.
Pemberitaan tersebut kemudian ditindaklanjuti deliksumut.com bersama parametertoday.com dengan turun langsung ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa masyarakat memang benar-benar melakukan perbaikan secara swadaya.
Menurut keterangan Kepala Desa Sihusapi Ramhot Simarmata, warga bersama para perantau telah menghimpun sekitar Rp75 juta untuk membangun rabat beton jalur dua sepanjang kurang lebih 180 meter pada ruas jalan provinsi.
Pembangunan swadaya tersebut telah dilakukan sejak 2021.
Artinya, masyarakat bukan hanya mengeluh.
Mereka telah menunggu, mengusulkan dan akhirnya mengambil tindakan sendiri.
Mereka mengeluarkan uang.
Mereka mengerahkan tenaga.
Semua dilakukan karena membutuhkan jalan yang layak.
Jalan Provinsi Rusak Puluhan Tahun
Ruas yang menjadi perhatian masyarakat merupakan jalur Simarmata–Sihusapi–Maduma.
Menurut warga, kerusakan jalan tersebut telah berlangsung sangat lama, bahkan disebut mencapai sekitar 20 tahun.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi jalan menuju wilayah Sihusapi hingga arah Desa Maduma masih ditemukan dalam kondisi memprihatinkan pada sejumlah titik.
Memang telah ada penanganan berupa pemberian sertu. Namun masyarakat menilai penanganan tersebut belum menyelesaikan persoalan secara menyeluruh.
Karena itulah, masyarakat memilih membangun sejumlah titik dengan dana sendiri.Padahal ruas jalan tersebut menjadi akses penting bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai petani.
Jalan digunakan untuk mengangkut hasil pertanian, menuju sekolah, tempat ibadah serta berbagai aktivitas ekonomi dan pelayanan masyarakat.
Di Tengah Jalan Rp27,85 Miliar
Persoalan Sihusapi semakin menarik jika melihat pembangunan jalan terbaru di wilayah Kabupaten Samosir.
Pemerintah Kabupaten Samosir pada 26 Agustus 2026 menginformasikan pembangunan ruas Simpang Gotting–Janji Raja sepanjang sekitar lima kilometer dengan nilai kontrak Rp27,85 miliar dari APBD Provinsi Sumatera Utara Tahun Anggaran 2026.
Pekerjaan tersebut ditargetkan selesai pada Desember 2026.
Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom bahkan turun langsung melakukan monitoring pembangunan tersebut.
Dalam keterangannya, Vandiko menyebut pembangunan tersebut sebagai bukti nyata kolaborasi Pemerintah Kabupaten Samosir dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui program Sumut Berkah Gubernur Bobby Nasution.
Pembangunan itu diharapkan memperkuat konektivitas sekaligus memberikan dampak terhadap sektor pertanian, perdagangan, pariwisata dan perekonomian masyarakat.
Dengan kata lain, sinergitas antara Pemkab Samosir dan Pemprov Sumut untuk membangun jalan memang berjalan. Dan itu patut diapresiasi.
Namun justru karena sinergitas tersebut terbukti dapat dilakukan, kondisi Sihusapi menjadi pertanyaan yang layak mendapat jawaban.
Bukan Membandingkan, Tetapi Mempertanyakan Prioritas
Masyarakat Sihusapi tentu tidak sedang meminta agar pembangunan di wilayah lain dihentikan.
Mereka juga tidak mempersoalkan pembangunan Simpang Gotting–Janji Raja. Setiap wilayah memiliki kebutuhan dan prioritas masing-masing.
Yang dipertanyakan adalah mengapa masyarakat yang menggunakan jalan provinsi masih harus mengeluarkan uang sendiri untuk membangun jalan yang mereka butuhkan.
Sementara di wilayah lain, pembangunan jalan provinsi dapat dibiayai hingga puluhan miliar rupiah melalui APBD Provinsi Sumatera Utara.
Karena itu, masyarakat Sihusapi berhak mendapatkan kepastian mengenai rencana penanganan ruas Simarmata–Sihusapi–Maduma.
-Apakah ruas tersebut sudah diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Samosir
-kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara?
-Apakah sudah masuk dalam daftar prioritas pembangunan?
-Jika sudah, kapan akan direalisasikan?
Dan jika belum, apa kendalanya?
Pemkab Samosir Sudah Merespons
Untuk ruas jalan kabupaten penghubung Sihusapi–Sidaji, Pemerintah Kabupaten Samosir telah memberikan respons.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Samosir, Rudimantho Limbong, bersama tim turun langsung ke lokasi pada 28 Agustus 2026 ketika masyarakat sedang melaksanakan gotong royong.
Pemkab menyampaikan bahwa ruas Sihusapi–Sidaji sepanjang sekitar 3,4 kilometer telah direncanakan menjadi prioritas pembangunan pada 2027.
Sementara untuk penanganan sementara, alat berat akan diturunkan untuk meratakan badan jalan, membersihkan sisi kanan dan kiri jalan serta melakukan pelebaran apabila masyarakat bersedia memberikan lahan.
Langkah tersebut tentu patut diapresiasi.
Namun untuk jalan provinsi, masyarakat masih menunggu langkah konkret dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Bobby Nasution Ditunggu di Sihusapi
Pembangunan Simpang Gotting–Janji Raja menunjukkan bahwa anggaran provinsi dapat diarahkan untuk pembangunan jalan di Kabupaten Samosir.
Bupati Vandiko juga telah menunjukkan bahwa pemerintah kabupaten dapat membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
Kini masyarakat Sihusapi berharap sinergitas yang sama juga menyentuh wilayah mereka.
Masyarakat tidak sedang meminta kemewahan.
Mereka hanya meminta jalan yang aman dan layak.
Bagi petani, jalan adalah akses membawa hasil pertanian.
Bagi anak-anak, jalan adalah akses menuju sekolah.
Bagi masyarakat, jalan adalah penghubung menuju pusat ekonomi dan pelayanan publik.
Karena itu, jalan rusak bukan sekadar persoalan kenyamanan berkendara.
Ini menyangkut kehidupan masyarakat.
Catatan Redaksi deliksumut.com :
Kita tidak sedang mengatakan Pemerintah Kabupaten Samosir tidak melakukan pembangunan.
Justru pembangunan Simpang Gotting–Janji Raja senilai Rp27,85 miliar menunjukkan bahwa sinergitas Pemkab Samosir dengan Pemprov Sumut dapat menghasilkan pembangunan infrastruktur yang nyata.
Namun pembangunan tidak boleh hanya berhenti pada ruas-ruas yang sudah mendapatkan anggaran.
Masih ada masyarakat yang menunggu.
Sihusapi adalah salah satunya.
Masyarakat bahkan sudah membantu dengan cara mereka sendiri.
Rp75 juta uang rakyat dikumpulkan untuk membangun jalan provinsi.
Mereka sudah mengeluarkan uang.
Mereka sudah mengeluarkan tenaga.
Mereka sudah menunggu bertahun-tahun.
Maka pemerintah tidak perlu menunggu masyarakat kembali patungan untuk kedua kalinya.
Gotong royong adalah budaya luhur.
Tetapi gotong royong jangan sampai berubah menjadi cara rakyat menalangi kewajiban negara.
Jika pembangunan jalan Simpang Gotting–Janji Raja dapat dibiayai dengan anggaran Rp27,85 miliar melalui sinergitas Pemkab Samosir dan Pemprov Sumut, maka pertanyaan masyarakat Sihusapi sangat sederhana:
Kapan ruas Simarmata–Sihusapi–Maduma mendapatkan giliran?
Rakyat Sihusapi sudah membuka jalan dengan uang mereka sendiri.
Kini mereka menunggu pemerintah hadir menyelesaikannya.
(Penulis : Samsir Sitanggang)
Keterangan foto : Masyarakat Desa Sihusapi, Gotong Royong Bangun Rabat jalur dua di Jalan Provinsi (2021)
Tag: #Samosir #JalanRusak #BobbyNasution #SumutBerkah #Swadaya*
